• Footer Widget #1

      Sabtu, 27 Agustus 2011

      Happy Ending part 10

      CHAPTER 10


      Aku bernafas begitu pelan. Aku lelah menghirup udara menyengat berbau obat-obatan yang membuatku pusing. Bosan menikmati pemandangan serba putih di tempat ini. Kesal tidak boleh melakukan kegiatan apapun selain berbaring. Kenapa mereka bersikeras menahanku disini? Dan anehnya lagi, mereka tidak memberiku infus atau alat apapun yang bisa membuatku mengerti, paling tidak aku bisa terlihat seperti orang sakitkan? Aku sehat, aku termasuk perempuan berumur sebelas tahun yang tergolong bugar. Aku masih bisa melompat, menyanyi, bermain piano tiap hari sampai aku ketiduran diatas tutsnya.

      Soo Yeon, kakak perempuanku menatapku enggan. Aku tak mengerti arti tatapannya itu. Kenapa ia menatapku dengan ragu seperti itu? Apakah aku menakutkan?

      “Soo Jung, aku akan menemui dokter dulu. Kau tunggu disini sebentar.” Katanya dan meninggalkan aku sendirian di kamar rawat yang lebih ku anggap seperti penjara.

      Aku terhenyak bermaksud menenangkan pikiran dan tertidur. Tidak, setelah setengah hari aku hanya melakukan kegiatan di dalam mimpi. Aku tak dapat memaksa agar rasa kantuk datang bagaimanapun juga. Akhirnya, aku turun dari ranjang, dengan bertelanjang kaki aku melangkah keluar kamar. Lantainya sangat dingin seperti es, walaupun ruangan ini sudah menggunakan penghangat. Aku tetap nekat keluar.

      Aku hanya bermaksud melihat-lihat. Tapi sosok kakakku membuat bagian dari-diriku penasaran. Aku mengikutinya berjalan ke arah seorang laki-laki mengenakan jas warna putih dan berkacamata. Uhm, dia pastilah dokter, auranya terlihat begitu bijak dan berwibawa, sesuai dengan baju dokter yang ia kenakan. Mereka berbicara sebentar lalu pergi bersama-sama memasuki sebuah ruangan.

      “Duduklah”
      “Ah terimakasih”

      Sungguh aku sangat ingin tau. Bukankah sangat umum anak seumurku mempunyai rasa penasaran? Jadi kalau aku menguping, kupikir tidak masalah. Ku tengok kanan-kiri, kali ini cukup aman.

      Aku menekan kenop pintu pelan, membuka celah selebar jempolku sendiri.

      Sedikit, aku bisa melihat Dokter itu bernafas berat. Dan didepannya ada Soo Yeon onnie dengan senyum terpaksa. Kenapa suasananya begitu menegangkan?

      “Ku harap kau bisa menjaganya dengan baik.” Mulai dokter itu “Kita hanya bisa melakukan tindakan ketika ia beranjak dewasa.”

      Soo Yeon onnie menunduk. Ehm? Matanya berair?

      “Jadi, sungguh tak ada cara lain? Dengan operasi? Therapy?”
      “Maaf nona Jung, kami tidak dapan melakukan tindakan apapun untuk sementara ini. Penyakit yang diderita adalah jenis penyakit keturunan. Sedangkan kedokteran kelas duniapun belum dapat menentukan anjuran yang terbaik. Karena di dunia ini kemungkinan penyakit ini hanya 0,1%. Banyak yang lebih tertarik meneliti penyakit mendunia lain, seperti leukemia atau tumor ganas. Itulah kerumitannya. Sedangkan jika pihak kedokteran Seoul ingin menelitinya sekarang, sudah cukup terlambat. Meneliti jenis penyakit seperti ini tidak sederhana dan belum ada upaya intensif dari pihak Negara. Satu-satunya cara adalah memperpanjang umur. Itupun aku tak dapat memastikan, apakah ia bisa bertahan hingga batas umur delapan belas tahun.”

      Tunggu, apakah yang mereka maksud adalah aku?

      “Yang aku takutkan adalah akan adanya penyakit komplikasi di usianya yang masih muda. ” tegas Dokter itu, sorot matanya begitu serius. “Hal yang paling umum dirasakan oleh penderita penyakit X ini, adalah pusing yang menyakitkan dan mendadak. Jika, dia sudah mengalami gejala ini. Segera bawa dia ke sini lagi.”
      “Dan anda baru bisa menentukan tindakan apa yang akan dilakukan?”

      “Ya, dan sisanya…” aku menelan ludah untuk mendengar kalimat selanjutnya “…hanya Tuhan yang dapat memutuskan, kapan Ia akan memanggilnya”

      Aku menganga, sebutir air mata mengalir melewati ujung kanan bibirku.

      Jadi itu alasannya kenapa aku harus terkurung berminggu-minggu dirumah sakit?



      “So-Soo Jung?!” pekik Yoo Jin tidak percaya saat melihat temannya itu muncul bersama Ki Bum dari arah pintu kelas. Wajah anak-anak lainpun terlihat kaget. Hampir dua minggu penuh Soo Jung tidak masuk kelas, dan selama ini mereka hanya mendapat kabar bahwa kakaknya telah meminta ijin pada pihak sekolah, guru-gurupun tidak bisa memberikan keterangan alasan ‘kesehatan yang buruk dan acara keluarga’.

      “Hai semua” kata Soo Jung penuh senyum, ia sudah membayangkan akan begini reaksi teman-temannya. Dia rindu wajah-wajah itu. Soh Hyun berjengit kaget ketika pandangan matanya bertemu dengan mata Soo Jung. Soo Jung tersenyum kecil dan mengucapkan kata ‘hai’ untuknya tanpa suara.
      ***

      Ruangan penuh rak berjajar berisi buku-buku, mulai dari yang tebal dan tipis. Meja-meja coklat tertata di pinggir dilengkapi dengan beberapa komputer. Di meja paling pojok dan tersembunyi dari pintu masuk, ada sosok siswi berkucir satu berkonsentrasi penuh dengan buku catatan kecil miliknya. Dia membolak-balik dan menuliskan sesuatu kedalamnya.

      “Soh Hyun-sshi,” Soh Hyun berhenti menulis “Kau tidak berubah, sepertinya, perpustakaan memang tempat yang paling nyaman untukmu”

      Soh Hyun terpaku menatap wajah seseorang yang ada dihadapannya kini.
      “Kau tidak lapar, Soh Hyun? Ini jam istirahat”
      “Aku tau,” Soh Hyun berusaha berbicara lancar menutupi rasa gugup yang melandanya.
      “aku-aku tidak lapar, kalau kau mau kekantin, duluan saja, aku baik-baik saja, Soo Jung-shi” Tapi Soo Jung tidak berpindah dari tempat duduknya.

      “Apa yang sedang kau tulis?”
      Soh Hyun terlihat bingung akan menjawab apa. Melihat ekspresinya, Soo Jung mengambil hati-hati catatan kecil didepan Soh Hyun dan melihat-lihat isinya. Soh Hyun tidak berkomentar ataupun menolak.

      Soo Jung terdiam sebentar mengamati tulisan tulisan rapi Soh Hyun, pandangannya sedikit kabur. Ada yang tidak beres dengan penglihatannya untuk beberapa detik. Kemudian ia bisa melihat jelas apa yang Soh Hyun tulis.
      “Whoa, kau suka anggur?” Soh Hyun tidak merespon apapun, ia terlalu gugup, gugup dengan perasaan bersalahnya sendiri. “Kau benar-benar menuliskan rasa dan aromanya dengan detail, hebat” kagum Soo Jung.

      “Aku tidak sehebat itu” gumam Soh Hyun dalam hati.

      “Eh?” Soo Jung menemukan sesuatu, “Tapi, kenapa hanya ‘Anggur Melanium’ yang tidak ada penjelasannya?”

      Soh Hyun memandang Soo Jung, apakah ia harus menjawabnya dengan terus terang?

      “Sebenarnya,” ya, Soh Hyun menjawab dengan terus terang “Aku tidak mampu membeli anggur, karena itu aku selalu mencoba merasakan anggur sisa di restoran tempat aku kerja. Anggur Melanium, adalah anggur yang sudah cukup langka, mungkin di Asia hanya ada beberapa. Dan karena itu restoran tempat aku bekerja tidak menjualnya. Itulah mengapa, aku tidak pernah tau bagaimana rasanya”.

      Soh Hyun siap untuk diejek, atau disindir oleh Soo Jung. Tapi yang ada, gadis itu justru tersenyum.

      “Aku memang tidak ahli tentang anggur. Yang aku tahu, anggur yang enak adalah anggur yang cukup lama disimpan, sekitar 4 atau 5 tahun. Soh Hyun-sshi, apa kau tidak merasa, hidup manusia seperti anggur? Semakin lama kita berkerja keras, semakin bagus pula hasil yang kita terima kelak. Bukankah itu benar?”

      Soh Hyun tersenyum kecil.

      “Kau benar”

      Soh Hyun tau apa maksud Soo Jung. Secara tidak langsung, Soo Jung telah menyemangati dan menyuruh Soh Hyun bekerja keras.
      ***

      Kelas XII-IPA hanya terisi oleh beberapa anak yang lebih memutuskan di kelas daripada ke kantin. Termasuk Soo Jung yang kemudian memilih duduk dibangkunya mendengarkan musik klasik kesukaan dari I-podnya. Wajah Soo Jung begitu damai dan tentram. Rambutnya yang biasanya tergerai, kini terikat tinggi. Tak berapa lama kemudian, Ki Bum masuk kelas dengan lunglai kemudian duduk di samping Soo Jung.

      “Tidak lapar?” tanya Ki Bum. Soo Jung tersenyum dan menggeleng. Ki Bum mendengus. Soo Jung akhir-akhir ini makin kurus, terlihat pucat dan rapuh. Entah ini hanya perasaannya saja atau orang lain juga beranggapan sama dengannya. “Pantas kau gampang sakit, habis tak doyan makan begitu”

      Soo Jung tidak menjawab apapun. Ia mencopot salah satu headshet dan memberikannya pada Ki Bum. Ki Bum mengangguk kecil dan memasangkan headshet tadi ke telinganya, ikut mendengar apa yang Soo Jung dengarkan sedari tadi.

      Lagunya klasik, istrument suara biola dan piano paling menonjol diantaranya. Walaupun hanya mendengarkan, tubuh rasanya terbawa di musim semi. Dimana ada keceriaan dan kesegaran disetiap alunan nada.

      “Lagu yang bagus” gumam Ki Bum.
      “Aku sangat menyukainya” balas Soo Jung tanpa menatap Ki Bum.

      Ki Bum menunduk, kemudian menyenderkan kepalanya di pundak Soo Jung. Rasanya begitu nyaman. Ia ingin waktu berhenti saat ini. Hanya berdua. Andaikan keinginannya itu, bisa menjadi nyata. Mungkin, ia tak akan membutuhkan tempat lain seperti surga.

      “Soo Jung-sshi,” panggil Ki Bum pelan. Ia ingin mengatakan sesuatu.
      “Hmm?”
      “Aku--mak-maksudku temanku,” ujar Ki Bum tanpa mengubah posisinya “…se, sedang menyukai perempuan”

      Soo Jung tertawa kecil. “Dan kau ingin bertanya padaku, apa yang harus temanmu itu lakukan?”

      Ki Bum menggigit bibir bawahnya. Kenapa, rasanya begitu sulit untuk mengatakan ‘Ya’?

      “Hmm” Soo Jung menghela nafas “Temanmu, dia tentu harus mengutarakan perasaannya,” kata Soo Jung antusias “sebelum dia menyesal, karena wanita yang ia suka telah mencintai laki-laki lain”

      Ki Bum tak mengucapkan apapun. Yang ada hanyalah sederet kalimat yang terus terbayang dalam benaknya.

      “sebelum dia menyesal, karena wanita yang ia suka telah mencintai laki-laki lain”

      Matanya kini terpejam. Kembali ke dalam bayang-bayang lalu. Membuka kembali album-album kenangan yang dapat ia kenang selama mungkin.


      Aku tak mengerti. Sungguh benar-benar tidak dapat mengerti dengan pasti akan apa yang telah terjadi. Kenapa bisa, aku begitu leluasa didekatnya. Kenapa mungkin jika aku merasa nyaman disampingnya. Hanya dalam jarak satu minggu. Gadis itu sudah tau apa saja kebiasaanku. Dia hapal makanan apa saja yang aku suka. Dan dia selalu tepat menebak apapun yang sedang ku pikirkan.

      Aku masih ingat, saat mata kami pertama kali bertemu. Tatapannya terlalu dalam, seperti lautan yang begitu ingin kuarungi. Senyumnya indah, sangat indah karena tersirat ketulusan disana. Setiap ia tersenyum kepadaku, setiap ia mengajakku berbicara dan setiap ia menggandeng tanganku dengan hangat, aku hanya mampu terdiam. Bibirku kaku layaknya es abadi yang tidak mampu mencair. Dia tau aku gugup. Dia tau, masih sulit bagiku untuk menerima sosok lain yang tiba-tiba hadir dalam hidupku. Tapi gadis itu tetap tersenyum dengan tingkah ‘tak berkutik-ku’.

      Aku bukan orang yang dingin. Aku ingin mempunyai teman. Tapi aku lupa bagaimana caranya mempunyai teman. Setahun lebih, kegelapan menarikku kedalam naungannya. Aku ingin lepas, tapi aku terikat. Aku ingin berlari, tapi aku terjerat. Mereka selalu mengancamku, karena mereka tau, kelemahanku adalah Ji Young. Satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku. Dan kini bertambah satu, Soo Jung.

      Hari ini hari minggu, hari santai untuk ku dan Ji Young. Ji Young akan memilih untuk tidur seharian atau mengerjakan tugas sekolahnya, dan aku akan memilih membaca komik karena kami tak punya TV. Aku mempunyai waktu setengah hari, sebelum nanti malam aku harus pergi ke markas dan melakukan pekerjaanku, merampok orang.

      “Ki Bum-shi” Soo Jung menarik tanganku yang tak mau berhenti membuka komik. “Ki Bum-shii!!” kini posisi tidurku bergeser, bantalku menekuk membuat leherku sakit.

      “Ya!” aku bangun terduduk, memperbaiki letak bantalku, dan kembali tiduran lagi sambil membaca komik. Soo Jung terlihat kesal. Jujur saja, setiap ia memasang sebalnya itu, aku ingin mencubit pipinya.

      “Ayo keluar Ki Bum-ah, kita jalan-jalan” pintanya. “Apa kau tak bosan berada dalam kamar berantakan seperti ini terus?” Well, sebenarnya ‘sangat’ berantakan kalau boleh dibilang.

      “Tidak” gumamku tetap focus pada adegan scene samurai yang sedang aku baca.

      Soo Jung mendengus kecil. “Ya, ini hari Minggu. Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.” Dia mulai ‘menyodok’ daerah perutku.

      “Ya! Hentikan!” teriakku benar-benar marah sekarang. Aku menangkap tangannya dan menarikknya, sehingga aku bisa meraih perut Soo Jung lalu membalasnya. Soo Jung bergerak seperti cacing kepanasan. Dengan sesekali ia tertawa sambil membalasku. Aku tau aku keterlaluan, tapi gadis ini benar-benar menyebalkan. Kemudian, gerakannya begitu diluar sangkaan. Tangannya tiba-tiba menarik bagian depan kaosku ke arahnya. Aku hanya bisa terdiam melihat wajahnya begitu dekat. Oh tidak, wajahku panas, pastilah sudah semerah tomat sekarang.

      Beberapa saat kemudian Soo Jung tersenyum lega.
      “Ki Bum-shi, kau harus ikut denganku keluar, atau kau jatuh terjungkal”

      Aku baru menyadari posisiku sekarang. Posisiku benar-benar menggawatkan. Jika Soo Jung tidak menarik kaosku tadi, mungkin aku sudah terjatuh dari atas tempat tidurku, dan kepalaku pasti langsung menghantam tanah.

      Baiklah, aku kalah.






      Aku tak dapat melakukan apapun untuk menghindar dari seorang Soo Jung. Gadis ini sudah seperti lem. Ia menggandeng tanganku leluasa, seakan ia lupa siapa aku, seorang bajingan jalanan yang berkeliaran tiap malam.

      Semuanya berbeda. Telah lama tak kurasakan sisa-sisa kehangatan matahari di antara hawa dingin yang berusaha menembus perlindungan jaketku. Telah lama tak kulihat keramaian dan hiruk pikuk kota yang khas. Banyak hal yang tak mampu ku uraikan satu persatu, seperti telah kembali kedalam otakku dan bukan hanya menjadi sebuah imajinasi yang terlantar begitu saja.

      “Ayo, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat”

      Ia selalu berkata seperti itu tiap menit ketika kami berdua melihat-lihat emperan toko dan jajanan dipinggir jalan. Kali ini dia meraih tanganku kembali. Ia menarikku pelan seakan akan aku adalah anak kecil yang akan lari dari pantauannya.

      Di gang samping toko kecil yang menjual alat-alat kuno, ada sebuah gang kecil yang kami lewati. Jalan hanya cukup di lewati tiga orang, dan hawanya lebih lembab. Aku terkesiap saat Soo Jung berhenti di depan sebuah rumah kuno, dengan aksen ukir indah berbentuk naga di atas pintunya.

      “Rumah siapa ini?”

      Soo Jung tak menjawab, ia tengah sibuk menekan bel pagar rumah itu. Tak berapa lama kemudian seorang wanita tengah baya keluar dari dalam rumah. Ia hanya menggunakan baju rumahan biasa, sekedar kaos dan celana selutut.

      “Ah, nak Soo Jung?” sapa ibu itu dengan ramah, lalu membukakan pagar.

      “Bibi, apa kabar?” Soo Jung tersenyum “Aku kemari membawa teman”
      Otomatis, aku langsung memperkenalkan diri. Ibu paruh baya yang kemudian aku panggil Bibi Lee itu mempersilahkan kami berdua masuk. Kami duduk beralaskan bantal tradisional. Beliau lalu permisi kebelakang untuk membuatkan kami berdua minuman hangat.

      Sebuah foto anak laki-laki di pigura dan terpajang cukup banyak di dalam lemari kaca menarik perhatianku.

      “Itu anak tunggal Bibi Lee” Aku mengangguk mengerti. Bibi Lee pasti sangat bahagia mempunyai anak yang begitu lucu seperti didalam foto. “Itu fotonya, sepuluh tahun yang lalu” Soo Jung tak beranjak dari tempatnya, berdiri disampingku. Bola matanya tak bergerak dari foto-foto di dalam lemari itu. “Lee Do Won, namanya Do Won”

      “Ah,” gumamku. Berarti mungkin sekarang, dia sudah seumuran dengan Ji Young. “Dimana Do Won?”

      Bibir Soo Jung tak bergerak cukup lama. Matanya sedikit terlihat menerawang jauh saat melihat foto itu.

      “Ia sudah pergi, Ki Bum-ah.”

      Ya Tuhan, jadi anak tunggal Bibi Lee sudah meninggal?

      “Nak, Soo Jung” Soo Jung menoleh dan tersenyum, ah, senyum maut itu lagi. Bibi Lee datang membawa nampan, dan meletakkan dua gelas diatas meja. “nak Soo Jung dan temannya, mau bibi buatkan bubur?”

      Soo Jung mengangguk semangat, kemudian menatapku antusias “Kau harus mencobanya, bubur buatan Bibi Lee sangat enak! Kau harus belajar cara membuatnya!”

      “Ayo” Soo Jung menarik tanganku, dan mengikuti Bibi Lee ke dapur.

      Jadi itu kenapa dia membawaku kesini?

      Hanya untuk mengajariku, bagaimana cara membuat bubur yang enak?



      ***

      Min Ho menegakkan pundakknya begitu ia telah sampai di luar gedung sekolah. Ia mencoba melepaskan rasa penat dan rasa lelahnya akibat berlatih piano bersama Bu Kim tadi. Saat ini dia sedang menunggu sesorang yang sedang berbicara dengan Bu Kim di dalam. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya, Soo Jung, menyusulnya dengan terburu-buru.

      “Apa yang Bu Kim dan kau bicarakan? Sepertinya sangat serius?” mulai Min Ho penasaran.
      “Eh?” Soo Jung mengembangkan bibirnya, dan menatap hamparan salju tipis yang menyelingkupi pepohonan. “Tidak ada.” Min Ho terdiam. Meskipun ia sangat penasaran, namun rasanya ia tak punya hak untuk bertanya lebih dalam. Ia bukan siapa-siapa Soo Jung. Fakta ini membuat lemas tubuhnya. Bukan siapa-siapa

      “Ayo, kalau begitu” ajak Min Ho. Soo Jung mengangguk, dan kemudian mereka berjalan bersama-sama ke arah gerbang sekolah yang letaknya cukup jauh dari arah gedung sekolah.

      “Kau terlihat sangat lelah”
      Min Ho tersenyum lepas, “Itu karena aku bersemangat”

      Soo Jung menarik ujung bibirnya. Tersungging senyum kecil disana.
      “Soo Jung-sshi, dua hari lagi,” gumam Min Ho lirih “kau akan datang kan?”

      Senyum Soo Jung pudar. Dua hari lagi?

      “Min Ho-yah, nanti Yoo Jin mengadakan acara ulang tahun. Kau mau datang?”
      Kenapa kau mengalihkan pembicaraan, Soo Jung-sshi?
      “Tapi, aku tidak begitu mengenalnya.”
      “Kau tak akan menyesal. Aku menunggumu di taman kota pukul 6. Oke?”
      “Eh, Ne”

      “Kau yakin akan menemaniku pulang? Naik bus?”
      “Hey, kita satu jalur”
      “Tapi rumahmu lebih dekat, maksudku, kau tak perlu menemaniku sampai-sampai kau harus putar jalur. Kau pasti sangat lelah sekarang”
      “Aku akan lebih lelah jika kau tidak mengijinkanku menemanimu”

      Soo Jung terdiam mendengar semua perkataan Min Ho. Dia cukup tercengang, sebab ia mulai tau, bahwa laki-laki yang ada di sampingnya ini mulai berubah. Min Ho tidak pernah sepandai ini dalam berbicara. Dan wajahnya tidak pernah se-expresive ini.

      “Soo Jung-shi, dimana syalmu? Kenapa kau tidak memakainya?”

      Soo Jung meraba lehernya.
      “Bodoh, kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?” ia melangkahkan kakinya, berniat ingin kembali ke ruang musik untuk mengambil kembali syal merahnya, namun Min Ho menahan pundaknya.

      “Biar aku saja yang mengambilnya”

      Tanpa aba-aba, Min Ho berlari sekencang mungkin ke arah gedung sekolah meninggalkan Soo Jung yang tanpa sadar sedang tersenyum ke arahnya.
      Ia sendiri tak mampu mengartikan senyuman yang merekah diwajahnya. Yang jelas, ia suka dengan sosok Min Ho yang sekarang. Kepribadiannya lebih lembut dan dewasa. Tapi, apakah rasa suka itu, bisa berubah menjadi rasa sayang?

      Soo Jung menghela nafas.

      ‘Kesalahan besar jika Min Ho mencintainya’. Berkali-kali ia mengulang kalimat itu dalam benaknya. Rasa itu, kenapa perasaan itu datang di saat yang salah? Kenapa perasaan itu memilihnya? Sekarang hanya satu hal yang Soo Jung perdebatkan dalam otaknya. Mana yang sedang ia rasakan saat ini? Rasa bersalah, atukah rasa cinta?


      Aku merasakan hal yang berbeda
      Namun aku tak dapat membedakannya

      Aku bisa memilih
      Namun aku tak dapat menentukan apa ini

      Aku bisa bertindak
      Tapi aku terlalu penakut seperti landak

      My Heart…
      Jawab pertanyaanku

      Apakah aku mencintainya?




      Drrt Drrtt
      Soo Jung meraih Handphonenya, sebuah pesan masuk dari nomor tak terdaftar.


      [QUOTE]Aku tebak, kau pasti sedang berdiri sendirian?[/QUOTE]

      a terbelalak. Kenapa dia bisa tau?

      Drrt Drrtt
      Sebuah pesan lain masuk, dari nomor tak terdaftar yang sama.


      [/QUOTE]Kau sedang bertanya-tanya, aku siapa?[/QUOTE]

      Soo Jung menoleh ke seluruh arah. Ia menelan ludah takut. Hanya ada dirinya disana. Min Ho-, cepatlah kembali

      Drrt Drrtt

      Soo Jung menunduk untuk membaca sms yang masuk lagi.


      [/QUOTE]Aku
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      ada dibelakangmu[/QUOTE]


      Detak jantung Soo Jung menjadi lebih cepat. Wajahnya terasa lebih dingin. Ia membalikkan badannya, dan…

      “Soo Jung-shi!!!”

      Soo Jung tersentak kaget.
      “Jong Hun, aph__ ah!” Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, laki-laki berseragam itu kini sudah berhambur memeluknya begitu erat.

      “Aku merindukanmu, chagiya

      Soo Jung mendorong tubuh Jong Hun untuk mundur. Tapi laki-laki itu tetap bersikeras untuk terus-terusan memeluknya.

      “Jong Hun-ah, sesak, aku tidak bisa bernafas”

      “Hei, apa kau tidak merindukanku?” tanya Jong Hun tanpa bermaksud melepas pelukannya sedikitpun.
      “Choi Jong Hun, ini tempat umum, jangan seperti ini.”

      Jong Hun merenggangkan pelukannya.
      “Aku tak mengerti. Bukankah kita sudah di jodohkan. Kenapa kau sangat khawatir jika aku memperlakukanmu begini di depan umum?”

      Soo Jung tidak bisa menjawab. Min Ho. Ia terkejut begitu nama Min Ho yang tiba-tiba terucap dibenaknya.



      “Apa yang kau lakukan disini?” suara itu berat, tajam dan terdengar begitu menakutkan. Tidak keluar dari mulut Soo Jung, melainkan sosok lain yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Jong Hun melepaskan pelukannya, sehingga Soo Jung dapat melihat jelas siapa itu. ‘Jelas’ sekali disana, Min Ho berdiri dengan tegapnya. Wajahnya menakutkan, matanya menatap tajam seakan siap membunuh kapan saja.

      “Ah, kau rupanya” sahut Jong Hun dengan tatapan yang berbeda. Entah apa maksud dari sikap santai Jong Hun itu, “Min Ho, ternyata kau sudah kembali ke Korea”

      Soo Jung memandang Jong Hun dan Min Ho bergantian. Mereka saling kenal?

      Min Ho mendekat dan menarik pergelangan Soo Jung. “Ayo kita pergi dari sini”
      Jong Hun menangkap lengan Soo Jung yang satunya, menahan Min Ho agar tidak membawa gadis itu pergi.

      “Akulah yang akan mengantarnya pulang” kata Jong Hun dingin.
      “Kau tidak punya hak apapun dan___”
      “Aku berhak karena sebentar lagi aku-lah yang akan menjadi tunangannya,”

      Min Ho terdiam. Kata-kata Jong Hun barusan, jelas-jelas telah menghantam mukanya kuat-kuat.
      “Aku tidak mengerti, apa maksudmu berbicara seperti itu” ucap Min Ho untuk mengatasi kekhawatirannya.

      Jong Hun tertawa. Tawa mengejek yang terlihat dibuat-buat.
      “Jangan pura-pura bodoh” katanya penuh kemenangan “Aku, adalah calon tunangan Soo Jung, kau dengar itu?”

      Kesabaran Min Ho sudah habis. Kemarahannya siap meletus saat itu juga. “Itu tidak lucu, Jong Hun”

      “Kau masih tidak percaya?” suara Jong Hun kini terkesan meremehkan “Kau bisa menanyakan langsung pada Soo Jung.”

      Soo Jung menahan napas. Apalagi saat ini Min Ho telah menatap wajahnya lekat-lekat. Soo Jung tidak pernah melihat raut wajah Min Ho yang seperti ini. Menakutkan, seakan-akan ada monster yang merasuki batin dan jiwanya.

      “Soo Jung-sshi, itu bohongkan?”

      Lidah Soo Jung kelu dan mengeras. Jika ada pilihan untuk tidak menjawabnya, ia akan memilih untuk tidak menjawab.

      “Soo Jung-sshi! Katakan padaku itu BOHONG!!”

      Astaga, kenapa berat untuk mengucapkannya?

      “Mianhe” jawab Soo Jung serak “Itu, itu benar”

      Semuanya seperti luntur. Segala kebahagiaan terasa tersedot habis. Seluruh tubuh Min Ho melemas. Detak jantung rasanya melambat. Min Ho melepaskan genggamannya dengan begitu berat.

      Jong Hun tersenyum sangat puas. Ia menarik Soo Jung dalam dekapannya, dan meninggalkan Min Ho berdiri sendirian disana.

      Mata Min Ho berair, untuk yang kedua kali ia harus menatap nanar punggung Soo Jung di hari yang sama. Kali ini, hati pemuda itu benar-benar miris, karena ia telah membiarkan ‘gadis yang begitu sangat dicintainya’ pergi bersama ‘bekas sahabatnya’. Tangannya, mengepal begitu kuat bersamaan dengan syal merah Soo Jung yang di bawanya erat sedari tadi.

      Kenapa semuanya jadi seperti ini?






      Jong Hun memperhatikan traffic light yang sedang menunjukkan warna merah dan wajah Soo Jung bergantian.
      “Kenapa wajahmu kusut begitu?”
      Soo Jung tak menjawab ataupun terlihat ingin menjawab. Wajahnya memang terlihat murung, seperti ada awan kelabu yang menutupi wajahnya.

      Jong Hun mendengus. “Kau temani aku kesuatu tempat” Ia meperhatikan baju yang di pakai Soo Jung, seragam sekolah “Dan tentu kita harus ke toko sebentar mengganti pakaianmu dan__”
      “Tidak” Soo Jung tidak membalas tatapan Jong Hun “Apa kau belum sadar juga akan apa yang telah kau perbuat, Choi Jong Hun?”
      Soo Jung memandang Jong Hun heran, karena wajah laki-laki itu tak terlihat bersalah sedikitpun.
      “Hubungan kami tidak baik”
      “Kalian bermusuhan? Ta-“ Soo Jung memotong perkataannya beberapa detik. Untuk kesekian kalinya penglihatannya kabur. Dengan penglihatan yang samar sepersekian detik, ia-pun kembali melanjutkan “-pi kenapa?”

      Hening beberapa saat. Hanya ada suara kendaraan yang ramai di sekitar mereka yang menyela.

      “Soo Jung-sshi, jangan dekati dia,,, “ kata Jong Hun tanpa memandang mata Soo Jung.
      “Apa maksudmu? Kenapa? Beri aku penjelasan, dan alasan yang bisa aku terima secara logis.”
      Jong Hun tersenyum “kau pikir penjelasanku itu gratis?”


      Selanjutnya Soo Jung hanya bisa memejamkan matanya takut, sebab Jong Hun telah menekan gas mobil dalam-dalam.

      ***

      ”Kau membunuhnya!”

      “Itu kecelakaan!”

      “Min Ho-sshi, aku kemudian sadar, aku melakukannya karena rasa iba, tak lebih”


      “Min Ho”

      “Aku, adalah calon tunangan Soo Jung, kau dengar itu?”

      “Soo Jung-sshi, itu bohongkan?”

      “Soo Jung-sshi! Katakan padaku itu BOHONG!!”

      “Mianhe….Itu, itu benar”


      “Ya! Min Ho!”

      Min Ho terbangun tiba-tiba dan mengerjab-ngerjabkan matanya. Hyejin, nunanya telah duduk di samping tempat tidurnya dengan wajah gusar.

      “Ya, kau mengigau! Kau berteriak sangat keras saat tidur tadi” jelas Hyejin dengan nafas memburu.

      Min Ho mengusap matanya tak peduli dengan wajah khawatir nunanya.
      “Nuna, sekarang jam berapa?”

      “Eh, jam empat sore kurang, kenapa?”

      Aku menunggumu di taman kota pukul 6. Oke?”

      “Tidak” jawab Min Ho dengan perasaan ganjal “Tidak ada apa-apa”

      “Ya, dari pada kau tidur lagi dan membuatku khawatir. Lebih baik bantu aku di dapur, Omma sedang pergi.”

      Min Ho mendengus
      “Aku mengan--”
      “Kau bantu aku atau kau nyawamu tidak akan selamat ”
      “Mwo?”
      ***

      Apartemen Jong Hun tak berubah dari saat terakhir Soo Jung di sana. Hanya saja, tirai-tirai menutupi cahaya matahari yang masuk, cahaya remang dan bau menyengat alcohol menyebar di sekitar ruangan. Jong Hun dan Soo Jung terlihat duduk berdampingan di samping meja Mini Bar.

      “Jangan pernah dekati dia” kata Jong Hun sambil sesekali sesegukan “Dia telah mengambil apa yang seharusnya adalah milikku” Ia menuangkan minuman alcohol ke dalam gelasnya dan meneguknya habis.

      “Aku masih tidak mengerti” tanya Soo Jung “Apa yang telah Min Ho ambil? Apa yang telah dia lakukan? Dia laki-laki yang baik.”

      Jong Hun memandang Soo Jung, sorot matanya menandakan kemarahan. “Jadi kau membela orang yang jelas-jelas telah memisahkan kita berdua, begitu?”

      Soo Jung tak mengatakan apapun karena ia tak mengerti alur pembicaraan Jong Hun yang telah di landa mabuk.

      Jong Hun berkata sinis, “Dan setelah kau kembali padaku, kau justru memilihnya, huh?”

      “Jong Hun-sshi, sudah cukup! Kau sudah minum terlalu banyak!”

      Jong Hun tak bergeming. Ia tersenyum meremehkan kemudian mengisi gelasnya dengan cairan alcohol lagi. Soo Jung menarik gelas Jong Hun, agar ia tidak minum lagi cairan bening kental di dalamnya. “Cukup, kau mabuk, dan tak menjelaskan apapun padaku”

      “Hentikan!” Soo Jung berhenti bergerak begitu mendengar hentakan kasar Jong Hun. Jong Hun mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Soo Jung lembut. “jangan larang aku lagi, Ji Won” katanya setengah sadar.

      Tangan Jong Hun menengadahkan dagu Soo Jung, kemudian memagut bibirnya kasar. Rasa pahit yang membakar langsung terasa di lidah Soo Jung.

      Soo Jung mendorong pundak Jong Hun keras, sehingga pemuda itu melepas kecupannya.
      “Aku bukan Ji Won” kata Soo Jung tegar seraya menepis tangan Jong Hun yang hampir menyentuh lehernya “Ji Won? Nugu?”

      Jong Hun tersenyum kecil. Ia kembali mendekatkan tubuhnya ke tubuh Soo Jung. Kali ini bibirnya bergerak bebas di leher putih Soo Jung. “Kau mencintaiku, benarkan?”

      “Jong Hun-sshi,” kata Soo Jung serak dan mendorong Jong Hun lagi. “kau mabuk!”

      “YA!”
      PRANG!

      Jong Hun melempar gelas yang sedari ia genggam ke lantai. Pecahannya berserakan dan serpihannya sempat mengenai kaki Soo Jung. Soo Jung menatap mata Jong Hun yang menyiratkan kemarahan itu dengan ngeri.


      “Jadi, kau membelanya? Jadi kau memilih dia?”


      Soo Jung meraih pergelangan Jong Hun sebelum pemuda itu jatuh menubruknya.

      “Jong Hun-sshi?”
      Jong Hun tak menjawab. Soo Jung memutuskan untuk memapah laki-laki itu ke kamar dan membaringkannya.

      “Jangan pergi!” igau Jong Hun saat Soo Jung mengangkat kakinya ke atas tempat tidur. “Ji Won” gumamnya berulang-ulang hingga ia terlelap.
      ***

      Satu sms masuk


      [QUOTE]
      From: Soo Jung

      Min Ho-sshi, taman kota pukul 6.[/QUOTE]


      Min Ho terhenyak di meja belajarnya. Apa aku masih bisa memilikimu, walau nyatanya kau akan menjadi milik orang lain?







      “Soo Jung-sshi” panggil Min Ho perlahan.
      Soo Jung harus mengamati wajah Min Ho cukup lama untuk menyadari bahwa itu benar-benar dirinya.
      “Ah, kau datang!” riang Soo Jung. Tidak ada tanda-tanda ia akan marah, justru ia tersenyum begitu cantiknya. Apa Soo Jung tidak menyadari kalau Min Ho terlambat hampir satu jam?
      “Kau tidak kedinginan?” tanya Min Ho heran, hatinya dipenuhi rasa bersalah membiarkan gadis yang ia cintai harus menunggu lama di udara sedingin ini.

      Soo Jung menggeleng perlahan. Ia memandang wajah Min Ho yang terlihat buram di matanya. Ia tidak menyalahkan hawa dingin. Matanya memang bermasalah. Entahlah sampai kapan ia akan masih bisa memandang wajah itu hingga ia tidak bisa melihatnya lagi. Hanya tinggal menunggu waktu untuk kehilangan warna-warna indah disekitarnya. Mungkin hanya dalam hitungan hari. Ia hanya akan melihat kegelapan.

      “Soo Jung-sshi, kau baik-baik saja?”
      “Eh? Ne” Soo Jung tersenyum kecil, menyembunyikan kekhawatirannya “Ayo,” ia menggandeng lengan Min Ho dan mereka beranjak dari sana.






      Rumah Yoo Jin luas. Lahannya dihabiskan hanya untuk membuat taman dan di tumbuhi pepohonan rindang. Sedangkan rumahnya bergaya tradisional dan bertingkat. Ruang tamu, telah disulap dengan pernak-pernik meriah dan sebuah lampu disko yang berputar di tengah-tengah langit-langit. Bantal-bantal berukuran sedang bertebaran menimbulkan rasa nyaman. Di atas meja yang tingginya hanya selutut ada berbagai macam makanan dan minuman, mulai dari cake, kacang karamel, botol bir soda, jus kaleng, hingga kripik kentang dan kopi kaleng hangat.

      “Min Ho! Min Ho!” Ki Bum memanggil Min Ho dengan tidak sabar “Ayo, buka bir sodanya!”

      Min Ho memejamkan matanya. Dengan jeda satu detik, ia sudah berhasil membuka tutup botol dan soda tersembur keluar.
      Yoo Jin berteriak gemas “Ya! Jangan arahkan ke aku Min Ho-sshi~!!”

      Min Ho tertawa.
      “Ayo tuang birnya!” seru laki-laki muda disebelah Ki Bum. Mereka semua yang ada disana bersulang semangat.

      “Ya! Kenapa kau habiskan kacang karamelku?!” sebal Yoo Jin seperti anak-anak.
      “Aku laki-laki, jadi normal kalau menghabiskannya. Kau itu harusnya diet Yoo Jin-a”

      Pletak!
      Tepukan keras tepat mendarat di atas kepala Ki Bum.
      “Soo Jung-sshi, lihat apa yang temanmu lakukan padaku!” adu Ki Bum meniru gaya Sinchan.

      Soo Jung tertawa sambil memegangi perutnya. Di sampingnya, Min Ho juga ikut tertawa puas melihat tingkah Ki Bum dan Yoo Jin.

      “Aah!” Tepuk tangan terdengar begitu riuh saat Yoo Jin memutar lagu dan mengambil mike. Ia mulai berkaraoke, kemudian ia menarik tangan Soh Hyun untuk menemaninya, tak lama kemudian seorang teman wanita lain menyusul. Dengan bertrio mereka menyanyikan lagu Davichi – 8282 sambil berjoget ria. Semua teman melihat mereka hingga berjungkal-jungkal karena sangat lucu dan sedikit menjijikan.

      Tak berapa lama kemudian lagu berganti, Yoo Jin memilih We Are The Future – H.O.T. Beberapa anak lelaki yang sedikit hafal dengan dance lagu ini, bangkit berdiri dan menjadi penari latar. Ki Bum tertawa terpingkal-pingkal bukan main. Saat bagian rap, Yoo Jin menyodorkan mic padanya, dan akhirnya Ki Bum menunjukkan sedikit bakatnya di bidang rap. Acara tiba-tiba menjadi begitu heboh, sampai lantai terasa sedikit bergetar.

      Soo Jung benar, Min Ho tak menyesal datang ke acara ini. Ia tidak melakukan kegiatan apapun, ia sudah sangat lelah kerena sering tertawa. Min Ho menyentuh dadanya. Rasanya nyaman, dan hangat. Sudah berapa lama ia tidak merasakan ini semua.

      Soo Jung. Min Ho melihat gadis itu duduk di sampingnya, rambutnya terikat ke atas, di balut syal putih di lehernya. Dan sedang tertawa melihat pertunjukan gila teman-temannya. Ya, Tuhan, aku sungguh mencintainya

      Min Ho meraih jemari Soo Jung dan menggenggamnya. Jemari pucat yang dingin. Soo Jung tersentak kaget dan berhenti tertawa. Ia memandang Min Ho dengan tatapan seakan bertanya ‘ada apa?’

      Min Ho tersenyum kecil, wajahnya mendekat dan ia membisikkan sesuatu di telinga Soo Jung. Hiruk pikuk disekitar mereka seakan-akan tidak bermakna, dan cahaya-remang membuat yang lainnya tak menyadari apa yang sedang Min Ho perbuat.

      “Aku tak peduli. Aku tak peduli meskipun kau milik orang lain. Meskipun pada akhirnya kau tak memilihku.” Mata Soo Jung melebar “Aku, aku akan tetap mencintaimu, Soo Jung-sshi”

      Soo Jung merasakan degup jantungnya bertambah cepat, dan darah di nadi-nadinya mengalir deras.

      Min Ho menarik wajahnya dan tersenyum, senyum yang mampu melumpuhkan setiap wanita yang melihatnya. Dan jeda berikutnya tubuhnya mendekat ke tubuh Soo Jung. Soo Jung tidak dapat mundur, karena punggungnya telah menyentuh tembok. Tangan kiri Min Ho melingkar di pinggang Soo Jung, sedangkan tangan kanannya tengah mendongakkan dagu gadis itu. Untuk yang kesekian kalinya, hidung mereka berdua bergesekan. Nafas mereka berbaur satu sama lain.

      Tapi tidak, Min Ho mengurungkan niatnya. Wajahnya sedikit terangkat, dan ia mengecup pipi Soo Jung lembut. Soo Jung terlihat sedikit tak percaya Min Ho tidak menciumnya.

      “Sepertinya, aku terlalu cepat” kata Min Ho dengan senyum paksa. Dan hati Min Ho kembali terenyuh. Soo Jung justru tersenyum dan tangannya kini telah meraih kepala Min Ho, lalu mengacak-ngacak rambut lelaki itu.

      Katanya pada Min Ho.
      “Kau sudah banyak berubah, Min Ho-yah~”
      ***

      Cahaya matahari yang melewati celah - celah korden membangunkan sosok pemuda jangkung yang sedang terlelap nyaman di atas tempat tidur mewahnya. Jong Hun harus susah payah untuk mendudukkan tubuhnya, sebab ia merasakan kepalanya sangat berat.

      “Huh, aku mabuk”

      Ia menyalahkan dirinya sendiri yang minum terlalu banyak kemarin sore.

      “Soo Jung?”

      Jong Hun teringat bahwa kemarin ia tengah bersama Soo Jung, tapi gadis itu tidak ada di ruang manapun. Yang ia temukan hanyalah secarik kertas yang tertempel di pintu kulkas.

      [QUOTE]Lain kali jangan minum terlalu banyak.
      Wajahmu saat mabuk jelek sekali. ^^

      Soo Jung[/QUOTE]

      Jong Hun tersenyum setelah selesai membaca tulisan Soo Jung.

      Gumamnya “Dasar anak itu. Tetap saja bertingkah baik terhadapku.”

      If you tie me down and trap me
      Then the love is also tied down
      The future is also tied down
      It can’t grow anymore
      Freely empty yourself and look at me
      I’ll fill you only, I’ll completely fill you only


      Jong Hun meraih Handpshonenya yang berdering di atas meja mini bar. “Ryan?” gumamnya saat melihat nama yang tertera di layar LCD Hpnya.

      “Ada apa Ryan?” angkat Jong Hun.
      “Tuan, kita harus bertemu, ada sesuatu yang ingin saya katakan.”
      “Tentang Min Ho?”
      “Bukan, ini tentang nona Soo Jung”
      Soo Jung?
      “Baiklah, di cafĂ© biasa, pukul satu, bagaimana?”

      ***

      TBC




      Wadoh TBCnya gak enak banget he~ takut kepanjangan….

      Maap updet lama, maklum, ujian menumpuk, tugas berjibun T.T
      Pendek kah? *digampar*

      Dan udah kejawab tuh, yang dibilangin pembunuh siapa? He, bukan Key lho~~
      Hubungan Min Ho ma Jong Hun sapa? *bekas* sahabat
      Makin lama makin terkuak udah nih,
      Mohon comment, ya,
      ^^
      NO Silent READER please




      Cuplikan part perikutnya





      “A-apa ini?” tangan Jong Hun bergetar, bibirnya dingin, matanya tak mengerjab. “Kebutaan bertahap? Penyakit komplikasi?” Jong Hun meremat dadanya yang rasanya seakan sesak. Matanya berair terlihat tak percaya sepenuhnya pada fakta-fakta yang tertera di kertas-kertas putih tebal itu.

      “Nona Soo Jung…” lanjut Ryan dengan berat hati “….ia sedang sakit keras, tuan.”

      -------------------------------------------------------------------------

      “Kenapa__” suara lirih Soo Jung terdengar tenang walau sedikit parau “Kenapa aku?”

      Min Ho tak bisa menjawab. Ia tidak tau apa alasannya. Ia tidak tau kenapa. Ia tidak tau bagaimana bisa. Ia tidak tau asal mulanya. Yang ia tahu hanyalah, ia mencintai seorang Jung Soo Jung. Sungguh mencintainya tanpa syarat.

      “Min Ho-sshi,”
      “Jangan katakan apapun”
      “Min Ho-sshi, ber ___”
      “Diam”
      “__henti cintai aku”
      “Tidak!” seru Min Ho benar-benar terlihat frustasi sekarang. “Aku menyuruhmu diam!!!”

      Soo Jung melepas kedua tangan Min Ho yang memeluk lingkar pinggangnya.
      “Berhenti mencintaiku!” teriak Soo Jung membuat Min Ho shock “Buat aku membencimu!!!”


      --------------------------------------------------------------



      kabur ah~~~~

      1 komentar:

      Posting Komentar

      THX 4 COMENT ^^

      Categories

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news