• Footer Widget #1

      Sabtu, 27 Agustus 2011

      Happy Ending part 11

      Jong Hun meraih Handphonenya yang berdering di atas meja mini bar. “Ryan?” gumamnya saat melihat nama yang tertera di layar LCD Hpnya.

      “Ada apa Ryan?” angkat Jong Hun.
      “Tuan, kita harus bertemu, ada sesuatu yang ingin saya katakan.”
      “Tentang Min Ho?”
      “Bukan, ini tentang nona Soo Jung”
      Soo Jung?
      “Baiklah, di café biasa, pukul satu, bagaimana?”
      ***

      Perusahaan Jung, perusahaan besar yang telah melejit namanya selama tiga puluh lima terakhir ini, telah menerima kemerosotan saham sebanyak 50% dibanding setahun yang lalu. Faktor utama kerugian ini dikarenakan kegagalan proyek pembangunan dan bisnis yang digunjingkan sebagai proyek besar yang menghabiskan ratusan milyaran dollar. Belum ada kepastian dan pemberitaan pasti dari Perusahaan Jung saat ini. Di___

      Klik, Channel TV terganti dengan stasiun TV lain.

      ___Saat Ini, sebuah langkah besar telah diambil oleh sebagian karyawan Perusahaan Jung cabang selatan yang telah berputus asa dengan kebijakan perusahaan Jung. Mereka berdemo di depan gedung___

      Klik, Channel TV berganti lagi ke siaran berita lain.

      Perusahaan Jung yang telah_____

      Klik! TV mati.

      Soo Yeon menengadahkan kepalanya pada sisi sofa. Memandang langit-langit kantornya yang polos. Rasanya lelah, panas. Wajahnya terlihat kurang tidur dan suram.

      “Media telah beraksi begitu cepat”
      gumamnya lagi.
      “Apa perusahaan ini benar-benar harus di tutup?”
      ***

      Ki Bum menarik nafas panjang. Posisinya tidak berubah, terlihat nyaman tiduran diatas tempat tidurnya. Tangannya terangkat, tepat di depan wajahnya, menunjukkan sebuah amplop kecil berwarna putih keunguan.

      “Temanmu, dia tentu harus mengutarakan perasaannya,”

      “sebelum dia menyesal, karena wanita yang ia suka telah mencintai laki-laki lain”


      “Aish” katanya “Laki-laki macam apa aku ini?” ia bangun terduduk dan mengacak-acak rambutnya sendiri “Kenapa caraku sepertinya kuno sekali?”

      Ia menatap sampah-sampah kertas yang ia buat tadi malam. Hanya membuat satu surat, tapi entah sudah berapa lama ia menuliskannya dan ‘entah’ sudah berapa lembar kertas yang ia habiskan. Ia sendiri merasa bukan tipikal lelaki yang pintar merajut bahasa.

      Ki Bum mengambil nafas panjang lagi,
      “Ayolah Ki Bum,” katanya pada diri sendiri “,masa kau tak bisa mengatakannya?”
      ***

      “Ya, ommaku ngomel, karena rumah sudah seperti kapal pecah!” kekeh Yoo Jin “Tapi kemarin sungguh mengasyikkan, perutku masih sakit karena terus tertawa.”

      Soo Jung tersenyum, “Dari suaramu, kau sepertinya tidak lelah? Padahal dari yang lain, kaulah yang banyak bertingkah”

      Yoo Jin tertawa terbahak-bahak, membuat Soo Jung harus menjauhkan handphonenya beberapa senti “Aku tidak ingat..” katanya disela tawa “…ternyata aku gila juga tadi malam. He.”

      “Aku dan Jin Ki oppa sebentar lagi akan mentraktirku nonton, he he. Jin Ki oppa bersikeras, agar aku bisa mengajakmu. Kau tau sendirikan seberapa ngefansnya dia dengan Nunamu? Kami berada didekat lingkungan rumahmu, Oppa membawa mobil, kalau mau, kita berangkat bersama, bagaimana?”

      Soo Jung tertawa kecil.
      “Mianhe” katanya dengan nada merasa bersalah “Tapi aku sedang tidak enak badan. Aku tak boleh keluar hari ini.”

      Yoo Jin mendengus, “Ah, sayang sekali. Kau pasti terlalu lelah? Cepat sembuh ya?”

      “Gomawo,”

      “Ya YOO JIN! Jangan habiskan pulsaku, bayi!” suara seruan terdengar dengan jelas.

      “Eh, sudah yah, oppaku yang pelit itu sudah marah-marah” kata Yoo Jin cepat.
      “Ah? Ne” jawab Soo Jung sambil tertawa kecil.

      “bye”
      “bye”

      klep,

      Sambungan telepon terputus.

      Soo Jung meletakkan handphonenya di atas meja lampu tidurnya. Ia tersenyum sekilas sebelum perhatiannya tersita pada sebuah amplop kecil yang tergeletak di samping lampu. Amplop itu berisi undangan resmi beberapa hari lalu yang diserahkan Min Ho kepadanya. Degan ketajaman matanya yang samar, ia masih bisa membaca tulisan tinta emas yang tertera, ‘anda telah diundang untuk menghadiri pertunjukan musisi-musisi muda berbakat pada…’

      “Soo Jung, 8 hari lagi pertunjukan perdanaku. Ini, aku mengundangmu.”

      “Kau harus datang”


      Mata Soo Jung berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang telah berada di ujung bulu matanya.


      Soo Jung menghela nafas panjang.

      “Soo Jung-sshi, dua hari lagi,”

      “kau akan datang kan?”



      Sebuah suara dari halaman membuat Soo Jung cepat-cepat menghapus air matanya. Dia bangkit berdiri dari tempat tidur, dilihatnya, mobil hitam klasik mengkilat memasuki halaman. Awalnya ia sedikit ragu jika itu mobil ayahnya, dia tidak pernah mendapati ayahnya itu datang kerumah secepat ini.

      “Ayah” gumamnya Soo Jung bahagia saat ia melihat sosok tegap dan keras ayahnya keluar dari mobil. Kemudian ia berlari keluar kamar. Dengan cepat, turun lewat tangga spiral. Kegembiraan terlukis dengan jelas diwajahnya.

      “AYAH!” serbunya bahagia begitu melihat Ayahnya memasuki rumah. “Kenapa sudah pulang? Apa yang terjadi di kantor? Ayah baik-baik sajakan?”

      Tidak ada jawaban dari sederetan pertanyaan yang Soo Jung ajukan.

      “Minggir!! ” teriak Ayahnya sengit.

      Soo Jung memaksakan dirinya tersenyum. “Ayah” ujarnya dan meraih pergelangan ayahnya.

      “LEPASKAN!!!”

      BRUK…

      Soo Jung di dorong hingga ia terjerembab di lantai. Ia sempat menahan tubuhnya dengan siku, sebelum wajahnya terantuk lantai.

      “Sudah berapa kali aku bilang padamu ha?!!” Ayahnya berteriak, “JANGAN PANGGIL AKU ‘AYAH’! AKU TIDAK SUDI!”

      “A-ayah, aku___”

      Ayahnya menarik rambut Soo Jung kasar. “Jangan sampai kau mengacaukan pertemuan dengan keluarga Choi sore ini. Cam-kan itu!” Ia mendorong kepala Soo Jung sampai kepalanya terbentur ke lantai. Beliau kemudian meninggalkan anak bungsunya yang masih setengah terkapar di lantai itu tanpa menatapnya.

      “Nona!” Seorang pembantu wanita, yang sedari tadi hanya bisa melihat dari jauh tanpa berkomentar, kini berlari cepat ke arah Soo Jung dan membantunya berdiri. Soo Jung berusaha berdiri. Kepalanya sakit, terasa dihujam ratusan jarum. “Mari saya antar ke kamar”

      “Gomawo” bisik Soo Jung dengan sisa tenaga yang ia punya.
      ***

      Soh Hyun menguap. Matanya terlihat sayu, dan rambutnya tergerai liar.

      “Ehm, f(x) = │x│, jadi f(-x) = │x│, Fungsi genap. Ehm, ini,“ ia menggaruk kepalanya, “Bukan fungsi ganjil ataupun genap.”

      Drrt Drrt

      Handphone flip-flap bergetar disampingnya. Ia menguap sebentar sebelum melihat layar LCD Hp, siapa yang menelponnya?

      Kang Hee oppa?

      “Oppa?” kata Soh Hyun dengan malas.
      “Kau habis bangun tidur? Suaramu aneh,”
      “Tidak, sedang mengerjakan tugas.” Soh Hyun menguap lagi sambil memainkan pensil yang ia pegang “Ada apa Oppa?”
      “Ada kabar bagus untuk mu” kata Kang Hee terdengar semangat “Kau tau restorant Pranciss pusat?”
      “Ehm, dekat Taman Hakdong?” tanya Soh Hyun memastikan.
      “Ne. Mereka membutuhkan pelayan tambahan untuk satu hari ini. Upahnya 30 Dolar! Asalkan kau tak membuat kesalahan.”
      “Maksud oppa, aku yang akan dikirimkan dari cabang restaurant tempat kita bekerja?” Soh Hyun terlihat senang, sampai menjatuhkan pensil yang di gerak-gerakkan aneh dalam genggamannya tadi.
      “Benar, Meneger nuna bilang ‘supaya bisa membantu sekolahmu’. ”

      Soh Hyun melompat kegirangan. 30 dolar hanya dalam sehari! Wow!
      “Gomawo! Gomawo! Ucapkan terimakasihku pada meneger nuna!”
      ***

      Min Ho mengusap-usapkan tangannya yang dingin. Ia melihat keseluruhan pemandangan fantastic dari sebuah teras rumah. Baiklah, rumah ini dapat dikatakan sangat mewah. Meskipun musim salju, halaman terlihat tetap bersih dan terawat.

      Seorang perempuan muda berseragam pelayan hitam dihiasi renda-renda berwarna putih, membuka pintu putih besar yang ada di hadapannya.

      “Nona bilang tuan masuk saja, Nona Soo Jung ada di dalam kamarnya. Jaket anda, biar saya gantungkan. Di dalam cukup hangat.”

      Min Ho mengangguk mengerti, melepas jaket, dan pembantu itu menerimanya.

      “Tuan mari saya antar?” tawar pembantu itu.
      “Ah, tidak usah. Trimakasih.” ucap Min Ho karena ia merasa tidak enak hati.
      “Baiklah, kamar Nona Soo Jung ada di atas. Di sebelah kanan paling pojok”
      Min Ho sedikit membungkuk, membalas bungkukan pembantu itu sebelum ia pergi.
      “Ah, kansahamnida”

      Ia menatap tangga yang melingkar ke atas. Sangat anggun dan porposional. Ia menaiki anak tangga satu persatu sampai ke atas. Dan segera mencari letak kamar Soo Jung.
      ***


      Seorang laki-laki muda bertubuh tinggi dan terlihat gagah, ia mengenakan jaket hitam kulit dan kacamata hitam. Sudah sekitar sepuluh menit yang lalu ia menunggu di dalam sebuah café kecil dengan dekorasi antik dan dihiasi banyak miniatur. Jong Hun memilih tempat paling pojok, cukup terang dan strategis.

      Tring

      Pintu café terbuka, diikuti suara lonceng yang tergantung. Laki-laki dewasa, kira-kira 22 tahun, sebuah kamera terkalung dilehernya. Orang yang sama, yang telah mengikuti Min Ho dan Soo Jung beberapa waktu lalu. Ia masuk dengan ritme langkah santai tapi tegas sambil menenteng tas kotak berwarna coklat kemerahan berukuran sedang. Penampilannya sedikit misterius dan aneh. Topi hijau bergaris kotak-kotak warna hitam. Syal gombreng warna hitam yang menutupi mulutnya. Ia mendongak memperlihatkan warna bola matanya yang hitam kecoklatan. Laki-laki itu diam sebentar, sepertinya mencari seseorang. Kemudian berjalan lagi mendekati Jong Hun, dan duduk di depannya.

      Jong Hun mengangkat secangkir moccanya dan meneguknya sekali.

      “Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku, Ryan?”

      Katanya dengan aksen professional “Saya menemukan sebuah informasi yang tuan harus tau.”
      Laki-laki yang dipanggil Ryan itu mengeluarkan sesuatu dari tas kotak yang ia bawa tadi. Ada beberapa foto yang diambil diam-diam, di sana ada sosok Soo Jung dan Soo Yeon yang keluar dari mobil.

      “Ini saya ambil ketika nona Soo Jung dan kakaknya tengah pergi kerumah sakit. Sepertinya normal, dan saya pikir tidak perlu dipermasalahkan. Tapi ada yang aneh.”

      “Aneh?” gumam Jong Hun sambil menge-check satu persatu hasil jepretan Ryan.

      “Mereka mengunjungi Rumah Sakit Seoul secara rutin. Setiap hari. Dan setelah saya mencari informasi, ternyata mereka juga memesan kamar rawat untuk beberapa hari kedepan.”

      Wajah pemikir Jong Hun timbul lagi. Matanya menandakan keseriusan, dan nada bicaranya terdengar hati-hati.
      “Apa kau sudah menanyai pihak rumah sakit?”

      “Ya, dengan sedikit gertakan, tuan, karena uang ternyata tidak terlalu mempan. Saya langsung menemui dokter yang mereka berdua temui.”

      “Mereka menemui dokter? Tidak ada maksud lain?” Ryan mengangguk datar.

      “Dokter itu hanya bisa memberikan duplikat informasi dan hasil check kesehatan terakhir” Ryan mengeluarkan amplop coklat besar dari dalam tas kotak dan memberikannya ke Jong Hun. Jong Hun mengeluarkan isinya tergesa-gesa. Sepersekian detik, raut wajahnya tak bisa mengartikan sesuatu. Matanya terasa panas, dan kerongkongannya seperti terbakar.

      “A-apa ini?” tangan Jong Hun bergetar, bibirnya dingin, matanya tak mengerjab “Kebutaan bertahap? Penyakit komplikasi?” Jong Hun meremat dadanya yang rasanya seakan sesak. Matanya berair, terlihat tak percaya sepenuhnya pada fakta-fakta yang tertera di kertas-kertas putih tebal itu.

      “Nona Soo Jung…” lanjut Ryan dengan berat hati “….ia sedang sakit keras, tuan.”

      “Ya, Tuhan” Jong Hun mengambil nafas panjang untuk memberi kekuatan pada hatinya. Tangannya menutup mulutnya yang sedang menganga tak percaya. Gadis yang periang itu? Soo Jung? Gadis yang selalu tersenyum itu?

      “Dokter itu bilang, 97% Nona Soo Jung tidak dapat dipastikan akan sembuh”
      ***

      Min Ho terdiam kaku memandang ganggang pintu berwarna emas lalu menekannya. Di dorongnya pintu itu perlahan. Begitu dia buka, ruangan luas dengan tema warna merah muda dan putih menyambutnya. Terkesan modern tapi sederhana. Sampai sosok perempuan dengan rambut tergerai yang sedang berdiri di dekat jendela besar membuatnya terkesima.

      “Soo Jung-ssi?” panggil Min Ho memastikan.

      Perempuan itu menoleh.
      “Min Ho, kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?” kata Soo Jung dengan senyum khasnya.

      Min Ho terdiam ditempat. Ia memandang Soo Jung dari atas kebawah. Dia tengah mengenakan gaun tidur tipis tanpa lengan, berwarna merah marun. Sangat cantik dan anggun.

      “Min Ho-ssi, tidak sulit untuk menemukan alamat rumahku kan?” tanya Soo Jung khawatir. “Kau terlihat sangat lelah”
      “Ti-tidak” gumam Min Ho. Dia dapat merasakan rambut-rambut kecil dibelakang lehernya berdiri. Dia mengalihkan perhatiannya keseluruh kamar yang terasa hangat. Mengontrol detak jantungnya yang sedang tak karuan sekarang.

      “Yoo Jin memberitahuku. Katanya kau sakit?” tanya Min Ho berusaha tenang.
      Soo Jung tersenyum kecil. “Aku hanya kelelahan sedikit, kau terlalu khawatir”

      Soo Jung duduk sebuah sofa panjang yang menghadap jendela, “Duduk?” ajak Soo Jung. Min Ho duduk di samping Soo Jung dan menyerahkan sesuatu berwarna merah tua yang sedari tadi digenggam.
      “Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertemu untuk menyerahkan ini padamu, Aku berpapasan dengan Yoo Jin tadi, dia bilang kau sakit dan kau malah menyuruhku kerumahmu”
      Soo Jung tersenyum. Ia tidak bisa mengatakan kebenaran, jika ia tidak boleh keluar rumah, karena ada pertemuan dengan keluarga Jong Hun nanti malam. Dan sakit hanyalah sebagai alasan untuk menutupinya.

      “Syal ku? Gomawo” ujar Soo Jung terlihat bahagia. Ia beranjak berdiri untuk menggantungkan syalnya, kemudian duduk di samping Min Ho lagi. “Yoo Jin, tadi pagi dia menelponku dan bercerita banyak tentang betapa bahagianya dia tadi malam.”

      Tak ada suara dari mereka. Min Ho meremat tangannya. Aku harus menjelaskannya, iyakan?
      “Soo Jung-sshi, aku hanya ingin agar kau tidak salah paham tentang aku dan Jong Hun.”

      Soo Jung memasang wajah serius “Kau pasti tau sesuatu, tentang Ji Won?”
      Min Ho tidak bisa mengontrol betapa kagetnya ia, karena pertanyaan Soo Jung benar-benar tepat sasaran. Ia benar-benar membutuhkan waktu beberapa detik sebelum ia menjawab “Iya” katanya dengan jeda. “Da-dari mana kau tau tentang Ji-Won___?” Min Ho tak memotong pertanyaannya dan menjawabnya sendiri “Jong-Hun, ya?”

      Soo Jung tak mengatakan apapun. Tak ada tanda-tanda di wajahnya, ia akan menjawab ataupun mengiyakan perkataan Min Ho.

      Min Ho menarik nafas, menatap langit-langit kamar yang terasa begitu tinggi untuk ia amati. “Aku-Ji-Won-Jong-Hun-semuanya-berkaitan”

      “Kau bisa ceritakan padaku, apa yang terjadi?”






      “Oppa, sekarang hari libur, oppa mau kemana?”
      “Pergi, menjenguk Soo Jung. Dia menelponku, katanya hari ini tidak bisa mampir kemari karena sakit.”

      Ji Young mendengus kesal. Oppanya satu ini, kalau sudah menyangkut tentang Soo Jung, khawatirnya setengah mati.

      “Oppa, hari ini mau buka Toko atau tidak?!”

      Ki Bum tak menjawab, ia sedang sibuk mengeluarkan sepeda dari dalam rumah.

      “Ya, oppa!”

      “Aku pergi dulu Ji Young, jaga rumah!” teriak Ki Bum dari kejauhan membuat Ji Young hanya berdecak pinggang sebal.







      “Kau bisa ceritakan padaku, apa yang terjadi?”

      Min Ho menunduk. Ia tau ini bukan kesalahannya. Itu semua kecelakaan.

      “Kami berdua dahulu sahabat dekat. Kami bertemu di Pranciss. Aku dan Jong Hun. Kami sahabat, akrab dan penuh tawa. Aku merasa beruntung bertemu dengan Jong Hun ketika itu. Aku sungguh bersyukur.” Gigi Min Ho terdengar sedikit bergemeretak untuk melanjutkan kalimatnya. “Tak berapa lama kemudian, Jong Hun mengenalkan aku pada pacarnya, dia__ Ji Won” menyebutkan namanya sangat menyesakkan. Min Ho menatap Soo Jung. Takut jika gadis itu juga ikut menyalahkannya. Namun Soo Jung tersenyum, ia meraih telapak tangan Min Ho dan menggenggamnya. Memberi kekuatan pada Min Ho untuk kembali membuka kenangan lamanya.

      “Dua tahun setelah itu, setelah hubungan mereka berjalan lancar.”Min Ho mengeratkan genggamannya. Dadanya bertambah sesak. “Tiba-tiba saja semuanya berubah. Hari itu, sehari sebelum pertunangan Ji Won dan Jong Hun. Ji Won ingin menemuiku di atap gedung sekolah, tempat kami bertiga biasanya bersama di waktu senggang.”

      ”Min Ho, apa aku harus bertunangan dengan Jong Hun?”

      “Ia menatapku seakan-akan aku adalah seorang pria, bukan tatapannya yang biasa saat menganggapku hanyalah temannya.”

      ”Kau membuatku ragu, Min Ho-sshi”

      “Apa maksudmu?”

      “Kau, membuatku suka padamu”


      “Ji Won mulai menangis saat menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku tak bisa. Aku tak mencintainya. Selama ini, aku hanya menganggapnya sebagai pacar sahabatku, tidak lebih.”

      “Aku hanya kasihan pada Jong Hun. Awalnya aku pikir dengan mengambil keputusan ini, aku bisa melupakanmu, tapi aku salah. Hatiku justru bertambah sakit. Rasanya menderita ketika harus membohongi perasaanku sendiri.”

      “Semuanya terjadi begitu cepat. Ji Won mengancam akan lompat dari atas gedung jika aku menolaknya. Aku tau ia tak akan berani. Sorot matanya memancarkan ketakutan. Di bawah terlihat kerumunan orang khawatir dengannya. Aku membujuk, ya, aku hampir berhasil menggapai tangannya. Ketika aku menangkap tangannya, kakiku terjerat, dan tanpa sengaja, di luar kendaliku.” Nafas Min Ho semakin berat “A-a-aku.” Ujarnya lirih “Aku mendorong Ji Won.”

      Soo Jung menahan napas, bisa membayangkan dan merasakan perasaan Min Ho waktu itu. Terdesak. “Jong Hun ada disana, ia melihatku membunuh calon tunangannya” Min Ho menatap Soo Jung, berharap gadis itu akan mengerti “Ia selalu menyalahkan aku. Ia membuat usaha ayah kacau, sehingga aku harus pindah ke Korea dan memulai semua dari awal.”

      Min Ho menatap Soo Jung yang tengah tak berkutik menatapnya. “Itu kecelakaan, aku benar-benar tak bermaksud! Aku, aku_ sungguh__”

      Soo Jung tersenyum lagi, tangannya terangkat, menepuk kepala Min Ho pelan sakan-akan Min Ho adalah seorang anak kecil. “Min Ho, kenapa kau tak pernah cerita? Aku sungguh mengerti, aku percaya pada Min Ho.”

      Min Ho bisa merasakan detak jantungnya perlahan kembali seperti semula, rasanya tenang, dan sejuk. Lega, dapat menceritakan semuanya.

      “Aku tau, Jong Hun orang baik. Dia hanya,” kata Soo Jung dengan tatapan lembut. “kesepian”

      Min Ho menelan ludah dengan susah payah. Tiba-tiba saja, ia teringat akan perkataan Jong Hun. “Aku, adalah calon tunangan Soo Jung, kau dengar itu?”

      “Jadi,” Ia tak sanggup kehilangan, ia tak sanggup membiarkan cintanya pergi ke orang lain. Kenapa harus Jong Hun? Kenapa bukan dia?

      Matanya memandang Soo Jung ragu.
      “Soo Jung” katanya “Apa kau mencintai Jong Hun?”

      Soo Jung menunduk, membuat beberapa helai rambutnya jatuh kedepan.
      “Media sedang gencar membahas kebangkrutan perusahaan Jung” lanjut Min Ho “Apa pertunanganmu berkaitan dengan hal ini?”

      Jawab Soo Jung,
      “Harapan satu-satunya adalah pertunanganku”

      Lagi-lagi sebuah kenyataan hidup yang tak bisa di ingkari. Bisnis. Sebuah pertunangan, untuk bisnis.

      “Tak usah khawatir Min Ho-sshi,” kata Soo Jung dengan tatapan bercahaya, matanya seakan-akan samudra yang ingin Min Ho arungi. “,aku akan baik-baik saja.”

      Min Ho menghela nafas pelan. Bukan hanya itu yang dipikirkan Min Ho sekarang. Satu pertanyaan, yang harus ia katakan, secepatnya.

      “Lalu, apa kau mencintaiku?”

      Mata Soo Jung melebar. Senyumnya pudar dengan cepat. Benar-benar sebuah pertanyaan yang terlalu sulit untuk dijawab.
      ***


      Ji Young menghela nafas.

      “Ini kamar apa tempat sampah sih?” sebal Ji Young mendapati banyak kertas yang berserakan dilantai kamar Ki Bum. Kemudian Ji Young mengambil salah satu kertas kusut berbentuk bola yang terletak di atas meja belajar Ki Bum.

      “Apa ini?” gumamnya ketika membuka kertas itu.

      QUOTE
      Untuk: Soo Jung


      “E? Untuk Soo Jung onnie?” gumam Ji Young penasaran, dan iapun melanjutkan membaca.
      QUOTE


      Tanpa ada tanda-tanda. Kau hadir dalam kehidupanku begitu saja. Dan telah kau berikan banyak warna dalam hari-hariku. Sampai aku tidak tau, apa yang harus kulakukan tanpa memandang senyummu.

      Kau slalu bilang ‘Kim Ki Bum bisa!’ dan kau selalu berteriak ‘faighting’ untuk mendukungku. Kau tau? Semua itu telah memberikanku banyak perasaan yang terkadang tak bisa ku uraikan dengan kata-kata.

      Kau boleh menertawaiku setelah ini, karena mungkin aku cukup pengecut menjadi seorang lelaki karena tidak mampu berkata langsung kepadamu. Tapi laki-laki penakut sepertiku tetap tidak bisa membohongi diri sendiri. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku yang terbelenggu karenamu. Ya, aku memutuskan harus menyampaikannya kepadamu, bagaimanapun caranya.

      ‘Saranghae, Jung Soo Jung’


      Mulut Ji Young menganga. “Apa, Ki Bum oppa menemui Soo Jung onnie untuk menyatakan cinta?”
      ***

      “Eh, Tuan ini teman nona Soo Jung?” tanya seorang pembantu berseragam pada sosok pemuda.
      “Iya, aku Ki Bum, Kim Ki Bum, teman sekelasnya. Aku ingin datang menengok.” Jawab Ki Bum kikuk, karena baru pertama kali, ia bertamu ke rumah Soo Jung. Dulu, Soo Jung pernah menawarinya untuk mampir kerumahnya, tapi Ki Bum merasa ia tidak pantas masuk kerumah super mewah ini.

      Pembantu wanita itu terlihat memperhatikan dari bawah keatas sosok Ki Bum itu. Penampilan sederhana, dan rambut sedikit acak-acakan.
      “Aku kira hanya satu orang yang akan datang. Ternyata ada lagi ya”
      “Jadi sebelum aku sudah ada yang datang?” tanya Ki Bum penasaran.
      “Iya, teman nona Soo Jung juga”
      “Kalau boleh aku tau, siapa?”
      “Kalau tidak salah namanya tadi tuan ‘Min Ho’. Dia juga sedang ada dikamar nona” jelas si pembantu singkat.
      “Min Ho?” gumam Ki Bum merasa tidak asing dengan nama itu.





      Min Ho menghela nafas pelan. “Lalu, apa kau mencintaiku?”


      Soo Jung beranjak berdiri. Mencari ketegasan, dan jawaban dari dalam hatinya. Apa aku mencintainya?

      “Kenapa aku?”

      Min Ho terdiam, memandang punggung Soo Jung yang berjalan menjauh darinya beberapa langkah.

      “Aku tidak pantas untuk-mu Min Ho-ah, aku sudah terlalu banyak membohongimu.”

      “Kau tidak pernah salah, bagiku kau tak pernah salah.”

      “Bilang padaku kalau semua yang kau katakan itu gurauan. Kau hanya bergurau, iya kan?”

      “Aku tak bergurau”

      “Kau tak mengerti. Aku tak seperti yang__”

      “Hentikhan!”

      Soo Jung tersentak, tubuhnya tiba-tiba menjadi begitu hangat. Min Ho telah melingkarkan tangannya di pinggangnya, ia telah memeluk perempuan itu dari belakang.

      “Soo Jung” Min Ho mengeratkan pelukan, menyandarkan dagunya ke bahu Soo Jung. Soo Jung dapat merasakan hembusan nafas Min Ho di lehernya, hembusan nafas yang terasa begitu berat.

      Min Ho tak mau gadis yang ada dalam dekapannya ini pergi. Ia memang tak bisa mencegahnya lewat kata-kata, sebab ia tak pintar berbicara. Yang jelas, semua perasaan yang aneh dan tak bisa dideskripsikan telah teracik sempurna dan siap untuk meledak kapanpun ia mau.

      “Kenapa__” suara lirih Soo Jung terdengar parau “Kenapa aku? Aku tak pernah menyuruhmu menyukaiku!”

      Min Ho sekali lagi tak bisa menjawab. Ia tidak tau apa alasannya. Ia tidak tau kenapa. Ia tidak tau bagaimana bisa. Ia tidak tau apa rasanya. Yang ia tahu hanyalah ia mencintai seorang Jung Soo Jung. Sungguh mencintainya tanpa syarat.

      “Min Ho-sshi,”
      “Jangan katakan apapun”
      “Min Ho-sshi, ber ___”
      “Diam”
      “__henti cintai aku”
      “Tidak!” seru Min Ho benar-benar terlihat frustasi sekarang. “Aku menyuruhmu diam!!!”

      “Aku tidak bisa membohongi diri sendiri kalau aku mencintaimu. Dan sekarang kau menginginkanku untuk berhenti mencintaimu sedangkan aku sendiri tidak tau kenapa aku bisa begitu sangat menyukaimu. Walaupun kenyataannya kau akan bertunangan dengan orang lain sekalipun!”

      “Kau tidak mengerti!” seru Soo Jung sendu “aku tidak se__”

      “Aku mengerti!!” sahut Min Ho, “Aku tau aku laki-laki bodoh yang tidak bisa mengontrol emosiku dengan benar. Aku juga murid yang tergolong kurang ajar dengan guru. Aku tak menghiraukan nilai-nilaiku yang turun akhir-akhir ini. Tapi aku akan menjadi begitu lebih bodoh, aku mungkin akan menjadi laki-laki paling jahat jika tidak ada kau yang selalu menemani hariku seperti biasanya. Melihat senyummu saja aku sudah seperti hidup kembali.”

      Pipi Soo Jung basah, air matanya mengalir begitu saja tanpa seijinnya. Soo Jung melepas kedua tangan Min Ho yang memeluk lingkar pinggangnya.
      “Berhenti mencintaiku!” teriak Soo Jung membuat Min Ho shock “Buat aku membencimu!!!”

      Min Ho menarik lengan Soo Jung, melempar tubuh gadis itu kedalam dekapannya. Soo Jung memberontak dalam pelukan Min Ho.

      Min Ho, aku sungguh tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jangan buat aku menyukaimu, ku mohon







      Ki Bum menaiki tangga terakhir di lantai dua.
      “Ternyata rumah Soo Jung besar sekali” gumamnya karena dia tidak pernah ke rumah Soo Jung sebelumnya. Kemudian, ia melangkahkan kakinya mencari kamar Soo Jung.

      “Aku menyuruhmu diam!”

      Sebuah suara remang-remang mengagetkan Ki Bum. Dia mengamati sekeliling dan berjalan mendekati asal suara.
      “Asalnya dari pojok sana” gumam Ki Bum sambil berpikir “Tapi kalau tidak salah, bibi tadi bilang kamar Soo Jung paling pojok. Bukankah itu kamar Soo Jung?”
      Ki Bum mendekat pelan-pelan.

      “Berhenti mencintaiku!”
      “Buat aku membencimu!!!”


      “Soo Jung?” gumam Ki Bum merasa ragu pada pendengarannya. Ia pun memutuskan mendekat lebih cepat.

      Akhirnya Ki Bum sampai didepan pintu putih itu. Pintu itu setengah terbuka, ia hanya perlu mendorongnya sedikit untuk mengetahui apa yang terjadi. Ki Bum pun mengatur nafasnya dan memutuskan mendorong pintu itu pelan

      BRUUKKK

      Ki Bum terbelalak kaget ketika dia melihat Soo Jung mendorong Min Ho hingga tubuh lelaki itu terhempas ke lemari.
      “Apa yang kau lakukan?!!” teriak Soo Jung shock.
      Min Ho mendekat dan meremat kedua pundak Soo Jung kasar.
      “Kau bilang ingin membenciku kan? Setelah ini, kau boleh membenciku”
      “Tapi ak___”
      Perkataan Soo Jung terputus. Min Ho tengah melumat bibir Soo Jung lembut. Tapi Soo Jung tidak membalasnya.

      Ki Bum seketika itu juga ingin berteriak, memanggil nama Soo Jung sekencang mungkin, ingin masuk ke ruangan itu dan melerai mereka. Ia ingin, tapi tak bisa. Tenggorokannya tercekat, lidahnya kelu dan kakinya seolah membatu.

      “Jangan katakan kau menyukainya” pikir Ki Bum penuh harap. “Soo Jung, kumohon”




      Mata Soo Jung terpejam. Ia yang terdiam, entah bagaimana bisa, ada sesuatu yang mendorong nalurinya. Pelan, tapi pasti, di luar keinginan Soo Jung, ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Min Ho. Mulutnya bergerak perlahan, ya, ia telah membalas ciuman hangat Min Ho dengan lembut.

      Ki Bum mengepalkan tangannya. Hatinya berkecambuk, nafasnya berat. Rasanya dunia akan hancur dalam waktu hitungan detik.

      “Jadi, pada akhirnya” Ki Bum membalikkan tubuhnya, Ia merasakan kakinya bergetar. Ini adalah sebuah pukulan, pukulan kenyataan yang membuat batinnya tersiksa. “aku memang pengecut kan?” Kemudian ia pergi dari sana, memendam semua perasaanya, seberusaha mungkin membuang rasa itu jauh-jauh. Rasa cinta dan rasa sakitnya, pada seorang wanita, Jung Soo Jung.

      Min Ho melepas kecupannya. Ia memandang wajah Soo Jung yang kini telah basah oleh air mata. Tatapan Min Ho seakan tak percaya, Soo Jung baru saja membalas ciumannya. Tanpa paksaan darinya. Mimpikah ia?

      “Mianhe,” kata Soo Jung.

      Raut wajah Min Ho kaku. Ia tak mampu berkata-kata. Namun tangannya bergerak, mengusap air mata dipipi Soo Jung. Gadis itu tersenyum, menyukai sentuhan lembut Min Ho.

      “Min Ho-yah, maafkan aku karena aku baru menyadarinya.” Soo Jung menyentuh pipi Min Ho dan berbisik “saranghae,”

      Min Ho pun refleks memeluk Soo Jung begitu erat. Hingga kaki Soo Jung hampir tidak menyentuh lantai. Ia sadar ini bukan mimpi, kalaupun ini mimpi. Ini adalah mimpi yang paling membahagiakan.
      “Aku tak pernah penduli” ucap Min Ho akhirnya. “Yang ku tau, kau adalah Jung Soo Jung, gadis yang aku suka”

      -TBC -

      0 komentar:

      Posting Komentar

      THX 4 COMENT ^^

      Categories

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news