• Footer Widget #1

      Sabtu, 27 Agustus 2011

      Happy Ending part 12

      CHAPTER 12

      Apa kau bisa mendengarnya?
      Lagu merdu yang mengalun lembut
      Terbawa angin hingga jauh
      Tersaingi oleh pikiran-pikiran manusia
      Tertutupi oleh hiruk pikuk kota
      Terpecah belah oleh suara gesekan daun pepohonan
      Tenggelam oleh air mata

      Tapi, aku dapat mendengarnya
      Awalnya samar
      Terlalu samar hingga tak mampu untuk ku nikmati
      Terlalu samar untuk ku artikan satu persatu

      Ternyata lagu ini indah
      Suaranya merdu
      Menghangatkan hatiku yang kedinginan
      Menyejukan hatiku yang membara

      Aku menangis
      Aku terlalu beruntung untuk mendengarnya
      Aku mengingkari bahwa aku tlah mendengarnya
      Dan akhirnya lagu itu justru mengalun lebih jelas

      Kini aku tau
      Lagu itu adalah perasaanku
      Perasaanku yang sebenarnya padamu

      By: Okta (author)
      ***

      Restorant Pusat. Entah keajaiban apa yang telah membuat Soh Hyun dapat menapakkan kakinya ke restourant Pranciss pusat yang terkategori retaurant sangat mewah di Seoul. Memikirkannya saja ia tak pernah. Kualitas makanan dan anggurnya bertaraf internasional. Mereka yang makan disini, kebanyakan adalah pengusaha-pengusaha sukses dalam bidangnya hingga para pejabat - pejabat tinggi negara. Mana mungkin rumah makan sekeren ini bisa kekurangan tenaga kerja? Itu mustahil, siapa pun pasti ingin bekerja disini, meskipun menjadi pelayan, tapi gajinya memuaskan untuk golongan pekerjaan yang relatif cukup rendah seperti itu.

      “Kau kiriman dari cabang kan?”

      Soh Hyun terlihat melongo, ia masih terlalu kagum dengan besar dan mewahnya restoran yang ia tapak ini.

      “Hey kau dengar aku?!”
      “I-iya” kata Soh Hyun mulai sadar ada orang yang mengajaknya berbicara. Seorang wanita, sangat cantik dengan rambut panjangnya yang terkucir kuda. Ia mengenakan kemeja putih dan rok warna hitam, cocok dengan imagenya yang dewasa.
      “Siapa namamu?”
      “So-Soh Hyun, Kwon Soh Hyun” ujar Soh Hyun sambil membungkuk, tak berapa lama ia menyadari bahwa wanita itu membawa beberapa lembar kertas yang beralaskan papan kayu.
      “Aku Eun Sa, menejer disini.” Kata wanita itu dengan nada tegas dan sedikit ketus “Kau masih sekolah?” Soh Hyun mengangguk cepat “Kenapa mereka mengirim anak kecil sepertimu? Aish, cepat ganti bajumu dengan seragam”
      “Ah? Ne, kansahamnida”
      ***

      Soo Jung menatap cermin besar didepannya, memperhatikan pantulan gambar diri seluruhnya. Meskipun dengan penglihatannya yang terbilang cukup parah, samar ia melihat tubuhnya dibalutkan dengan off shoulder black dress ketat sepaha yang berwarna hitam. Dress ini menonjolkan siluet tubuh. Dipermanis dengan banyak kerutan-kerutan kecil di bagian dada. Ia juga mengenakan sepatu hak tinggi warna hitam berhias batu-batu hitam mengkilat. Wajahnyapun terlihat cocok dengan make up yang menonjolkan bentuk rahang pipinya. Rambut yang biasanya lurus, kini terlihat ikal bergelombang. Anggun dan cantik.

      “Aah, cocok sekali”

      Soo Jung menoleh, Soo Yeon tengah berdiri tak jauh darinya. Onnienya itu juga mengenakan dress warna hitam diatas lutut, dengan tambahan jas mini warna hitam dan rambut diikat tinggi.
      “Ayo kita berangkat, Ayah sudah menunggu kita di mobil”

      Soo Jung menelan ludah dengan susah payah.
      Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
      ***

      Dua buah mobil hitam memasuki halaman parkir sebelah utara Restaurant. Mobil pertama berlambangkan huruf 'C' yang khas dan mudah untuk dikenali. Sang sopir keluar dari kediamannya dan membukakan pintu mobil belakang, sepasang suami istri keluar dari mobil, mereka nampak lebih muda dari umurnya yang sudah empat puluhan lebih. Sedangkan mobil kedua, lebih terlihat seperti mobil pribadi, belum juga terlihat bergerak. Sang pemilik seakan-akan enggan untuk keluar dari tempatnya.

      Tok tok
      Supir tadi mengetuk kecil kaca jendela mobil pribadi tadi.
      "Tuan muda, silahkan keluar, Tuan dan Nyonya menunggu anda"

      Seseorang didalam mobil mengecheck jam tangan goldnya. Sudah hampir pukul delapan malam. Ia mengusap-usapkan tangannya yang sedikit dingin dan sesekali merapikan jas hitam yang membuat penampilannya lebih gagah malam ini.

      "Akhirnya hari ini tiba juga" gumamnya. Ia mengambil nafas panjang, kemudian keluar dari dalam mobil hitamnya menuju ke restourant mengikuti kedua orang tuanya.





      Soh Hyun mengusap keringat yang menetes didahinya. Lelah sekali membersihkan semua meja yang ada di restoran dan menatanya lagi. Pelanggannya 2 kali lebih banyak dari pelanggan Restorant cabang.

      “Hei, cepat sedikit, kita mau tutup”
      Soh Hyun mendengus kesal sambil menatap pelayan wanita yang barusan menegurnya. Ia menatap jam tangannya. Masih hampir pukul delapan malam, tapi restorant sebesar ini akan tutup lebih awal?

      Ia berjalan lunglai ke arah pintu ruang pelayan. “Huft,” keluhnya lagi.

      “Aku dengar Tuan Muda akan bertunangan, benar?”
      Soh Hyun menghentikan langkahnya, dan ikut tenggelam dalam pembicaraan beberapa pelayan wanita yang terdengar begitu asyik.
      “Hmm, dan Tuan Muda sendiri yang bilang setuju”
      “Pertemuan kedua pihak sangat mendadak, hari ini. Padahal banyak pelayan pusat sedang mengambil cuti”
      “Ayo kita harus cepat, bisa dipecat kita kalau semuanya tidak beres sebelum Tuan Muda datang”

      Soh Hyun mengangkat salah satu alisnya. Pertemuan? Pertunangan? Ia mendengus lagi dan menghiraukan percakapan yang barusan didengarnya.
      Hampir saja berbalik, Ia sudah dikejutkan dengan bisikan kaget salah satu pelayan tadi.
      "Tuan Jong Hun sudah datang!"

      Soh Hyun memincingkan matanya, memperhatikan satu titik fokus pada Sesorang dibelakang pasangan suami istri. Pemuda yang berjalan dengan penuh kharisma memasuki ruang utama VVIP restaurant. Ia sungguh gagah dengan jas mewah yang dikenakan. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Soh Hyun sempat melihat satu keluarga itu duduk di sebuah meja utama, yang terlihat besar diantara yang lain.
      "Jadi itu tuan Jong Hun?"

      "Ya! kau, kenapa berdiri disitu?"
      Soh Hyun berjengit, hampir saja jatuh dari tumpuan kakinya. Ia mengangguk cepat kearah menejer Eun Sa dan segera pergi dari sana.
      ***

      Di atas sana ada ratusan bintang, tetap berusaha bersinar walau tertutupi awan kelabu dan meskipun terkalahkan oleh terangnya lampu-lampu kota. Malam yang suram. Berbeda dengan kamar itu, suram karema pencahayaan hanya datang dari luar jendela, sesuia dengan perasaan pemiliknya.

      “Min Ho-yah, maafkan aku karena aku baru menyadarinya.”

      “saranghae,”


      Laki-laki itu masih terbenam dengan sederet kalimat itu. Dengan cahaya suram, ia masih memperhatikan foto yang ada di genggamannya. Kemudian ada satu pertanyaan yang timbul dalam benaknya. Apakah kami benar-benar dapat bersatu?

      Min Ho mengusap foto itu lagi, foto dimana dia dan Soo Jung pergi berdua untuk pertama kalinya waktu itu. Ia berharap, waktu terulang lagi, dan membuktikan padanya, ini nyata, tidak mengulangi kecerobohannya dan ia akan mencari Soo Jung sebelum ia gadis itu dimiliki orang lain.

      “Media sedang gencar membahas kebangkrutan perusahaan Jung. Apa pertunanganmu berkaitan dengan hal ini?”

      “Harapan satu-satunya adalah pertunanganku”


      “Harapan satu-satunya” gumam Min Ho miris. Ia menghela nafas panjang.

      “Impianku agar kau mencintaiku memang terwujud” katanya setengah berbisik “Tapi Jika faktanya kau akan jadi milik orang lain walaupun kau telah mengatakan mencintaiku, rasanya tetap begitu menyakitkan, Soo Jung”

      Min Ho menghela nafas. Hawa dingin es yang tiba-tiba menjalar ditubuhnya.
      “Tuhan, kumohon” bisik Min Ho gentar “Aku mencintainya. Sungguh mencintainya.”
      ***

      "Seharusnya mereka sudah sampai" kata Jong Hun "Sudah setengah jam"
      "Kau harus menjaga sikapmu itu Jong Hun" suara berat dari sang Ayah terdengar menegurnya. "Kau adalah anak dari seorang pengusaha besar, tunjukan wibawamu, jangan seperti anak kecil"
      "Sudah ayah," ibunya menenangkan suaminya "Lagipula, Jong Hun sendiri yang menyetujui pertunangan ini"

      "Ah, Jung Woo!"
      sang Ayah yang merasa namanya telah dipanggil menoleh, dan langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia tersenyum mendapati seorang laki-laki yang seumuran dengannya. Mereka berdua saling mendekat dan bersalam kemudian menepuk punggung satu sama lain sangat akrab. Istrinya juga bangkit dan ikut bersalaman, diikuti Jong Hun, masih dengan gayanya yang cuek.

      "Ah, Jong Hun tampan sekali, gagah seperti ayahnya" tawa laki-laki itu akrab.
      "Oh, jangan memuji begitu" kata Jung Woo "Dimana Soo Jung? Calon menantuku?"

      "Ah, itu dia bersama kakaknya" jawab ayah Soo Jung cepat saat dua orang wanita tengah berjalan beriringan mendekatinya.

      Jong Hun tak bisa mengatur denyut jantungnya. Ia hanya berdiri kaku. Gadis ramping itu mendekat, sangat anggun, dan manis. Ia menatap Jong Hun dan tersenyum kecil, Jong Hun tak berkutik memandang gadis itu. Gadis yang akan menjadi tunangannya. Jung Soo Jung.
      ***

      Butiran-butiran putih selembut kapas tumpah dari langit yang mulai gelap. Taman itu sepi. Tak ada suara tawa anak-anak yang biasanya terpapantulkan lewat dedaunan. Yang ada hanyalah suara samar hentaman-hentaman yang dibuat oleh sosok laki-laki muda diantara pepohonan tinggi yang menjulang.

      Kim Ki Bum, ia tak beranjak dan tak berhenti. Di hadapannya ada sebuah pohon cemara yang tidak cukup tinggi, pohon itu berkali-kali bergetar dan salju yang menutupi daun-daunnya jatuh sedikit demi sedikit ke tanah karena pukulannya. Tak ia hiraukan betapa sakit jemarinya ataupun butiran-butiran darah kering yang menempel di batang pohon.

      Gadis itu menyibakkan rambutnya, membuatku bisa melihat lehernya yang jenjang dan putih. Bibirnya yang kemerahan merekah. Indah bola matanya bergerak-gerak lincah. Ia masih terfokus pada buku kecil dengan hiasan daun kering disampulnya.

      Aku masih memperhatikannya dan merasa sungguh bersyukur meja makan ini begitu kecil, sehingga aku bisa mengamati gadis ini dengan dekat. Jung Soo Jung, gadis cantik bersayap malaikat. Gadis yang entah sejak kapan, membuat jantungku selalu berdegup kencang dibuatnya.

      Hampir setengah tahun, Soo Jung selalu rajin ketempatku. Entah kenapa tiba-tiba ia memutuskan menjadi guru privatku. Aku sungguh tak keberatan karena jujur pendidikanku sangat terlunta-lunta, bahkan mungkin sedikit lagi aku akan keluar dari sekolah jika Soo Jung tak mencegahku.
      “Kau pasti terkejut” katanya dengan penuh semangat. Aku tersentak kaget, dan bertingkah seakan-akan sedang memikirkan hitungan soal fisika yang terbuka lebar dihadapanku. “Penjualan bubur, dalam empat bulan__” ia tak melanjutkan perkataannya, melainkan menyodorkan buku kecilnya itu padaku, menyuruhku untuk melihat apa yang tertera disana.

      “Jeongmal?” gumamku tak percaya. Bagaimana tidak? Selama empat bulan ini, kami membuat bubur untuk pesanan. Walau pelanggan kami memang kebanyakan adalah orang yang sudah ber-umur. Aku tak menghitung seberapa banyak pelanggan atau penjualan, tapi gadis ini-lah yang menyimpan dan mengitung semua penghasilan. Dan kini, angka-angka ini benar- benar seperti ‘mimpi’, hanya dalam empat bulan, uang sudah begitu banyak terkumpul.

      Ia mengangguk lembut. Dan perkataan selanjutnya membuatku semakin merasa ini adalah sebuah ‘mimpi’.

      “Kita buka toko bubur, bagaimana?”
      ***

      Ruangan ini cukup luas, dengan sofa-sofa kotor yang tertata di sembarang tempat. Lampu-lampu kecil sebagai sumber pencahayaannya, semua jendela tertupi oleh papan-papan kayu tebal yang usang. Bau rokok dan alcohol membuatku ingin muntah.

      “Aku ingin berhenti menjadi anggota”

      Aku bisa merasakan keringat dingin yang meluncur cepat di sela-sela rambutku. Hawa terasa begitu menusuk. Belasan tatapan laki-laki menatapku dengan tajam.

      “Besar sekali nyalimu Kim Ki Bum” suaranya mengglegar dan terdengar lantang. Aku menatapnya segan, seseorang yang bertubuh tinggi dan terlihat keren dengan tato naga di lengan kanannya. Kami semua memanggilnya X. Tak ada yang tau siapa nama aslinya, ataupun biodatanya yang asli. Dia masih muda, lebih tua dariku kira-kira tiga atau empat tahun, inilah hal yang tak kumengerti, kenapa ia bisa menjadi seorang bos dengan umurnya itu.

      Kali ini aku menemuinya, adalah sebuah keputusan besar yang harus ku ambil secara matang-matang. Apalagi tujuanku sekarang, adalah salah satu dari semua hal yang ia tak suka.

      “Ya, Kim Ki Bum, sepertinya kau mabuk” tawa salah seorang yang aku kenal bernama Jang Seong Yeol. Rambutnya hitam kecoklatan, dan ciri khasnya adalah sebuah tindik di telinga kirinya. Dulu, dia adalah orang yang secara langsung menggeretku untuk bergabung dengan kelompok ini. Kehidupannya tidak lebih parah dariku, pernah Seong Yeol bercerita, dia bergabung setelah dibuang ke jalanan oleh orang tuanya.

      “Aku tidak mabuk” kataku tegas. Dapat ku lihat X menyunggingkan senyuman licik. Dan disampingnya, Seong Yeol menatapku enggan tak percaya. Mulutnya bergerak mengucapkan kata ‘bodoh’ kepadaku.

      “Aku, ingin berhenti menjadi anggota”

      X tertawa, seakan-akan perkataanku sangatlah lucu.

      “Sungguh lucu kau Ki Bum” katanya mengejek “Ku akui kesungguhanmu, kau masuk anggota ini tak mudah” Aku menunduk. Menjadi salah satu anggota memang tak mudah. Yang aku ingat adalah wajahku yang babak belur, tangan kananku patah dan terakhir adalah punggungku yang di cap anggota resmi dengan besi panas, membentuk sebuah luka bakar berbentuk ‘X’. “Maka kau keluarpun juga tak mudah” lanjutnya “Kau lupa salah satu peraturan yang aku buat hah?”

      Aku menatapnya langsung, tanpa ada rasa takut. “ ’Siapapun yang telah menjadi anggota, akan berhenti menjadi anggota jika ia mati, atau ia memberikan harta berharganya’, aku masih ingat” kataku tak mau kalah “Dan aku akan mengubahnya.”

      Kalimatku terakhir langsung membuat mata X melotot tajam. Tanpa basa-basi aku melawannya, dan selanjutnya, tak dapat kubayangkan apakah aku akan baik-baik saja.

      Benar saja, tangannya terangkat, jari telunjukknya menunjukku “Hajar dia” katanya. Empat orang diantara orang-orang yang ada disana, maju. Mereka senior. Wajah penuh goresan dan bekas-bekas luka yang mengerikan.

      Empat orang lawan satu. Walaupun aku terhimpit, setidaknya keberuntunganku lebih bagus dari mereka. Aku menghindar ketika salah satu tinju terarah ke pipi kiriku. Aku menyerang sangat brutal, dan begitu puas ketika pukulan-pukulanku mengenai perut atau wajah beberapa dari mereka. Aku tau aku lemah dengan serangan dari belakang, sehingga seberusaha keras ku buat posisi selalu berada di depan mereka.

      “Ada penyusup!”
      Semua perhatian kini terpusat di belakangku. Aku berputar melihat apa yang terjadi. Laki-laki lebih muda dariku dengan penampilan acak-acakan masuk ke ruangan. “Ada yang menyusup kemari” katanya terengah-engah.
      Tak lama kemudian, seorang lagi menyusul dibelakangnya, ia menarik kasar sosok yang tadi dibilang ‘penyusup’.

      Hatiku mencelos. Penyusup itu seorang perempuan, berambut hitam panjang. Parasnya cantik. Mirip dengan seseorang yang selama ini aku kenal.
      “Soo Jung? Apa yang kau lakukan disini?” gumamku panik.
      Gadis itu memandangku dengan rasa bersalah.
      “Mianhe, aku khawatir. Tak kusangka kau benar-benar melakukan apa yang kukatakan” Katanya dengan bibir bergetar. Ia memandang ke arah jendela, dan menelan ludah. Apa yang ditunggunya diluar sana?

      Suasana hening ini terpecah dengan suara besar X.
      “Benar-benar adegan manis” katanya “Jadi, ‘pacarmu’ ini yang menyuruhmu berhenti menjadi anggota, huh?”

      Aku tak menjawab walaupun aku ingin berkata ‘ya’. Meskipun gadis ini bukan pacarku, tapi aku mencintainya, dia berharga untukku.

      “Bawa gadis itu kesini” perintah X.
      Aku menggigit bibirku yang bergetar saat Soo Jung yang ditarik paksa lewat di hadapanku. Kenapa jadi seperti ini?

      “Tadi kau bilang ingin berhenti menjadi anggota” X menarik pergelangan tangan Soo Jung, membuat gadis itu kesakitan. Wajah Soo Jung terlihat ketakutan, berkali-kali dapat kulihat ia menelan ludah gusar. Ia memperhatikan ke arah jendela sekali lagi, seakan-akan menanti kedatangan seseorang. “Bagaimana jika, kau membayar kebebasanmu___” X menunduk, menyibakkan rambut hitam Soo Jung kebelakang, kemudian lidahnya terjulur, jelas sekali ia menjilat sisi kanan leher Soo Jung. Soo Jung memejamkan matanya erat menahan dirinya agar tidak berteriak. “___dengan memberikan pacarmu ini padaku?”

      Tanganku mengepal. Kali ini aku benar-benar marah. Wajahku panas, mataku sedikit berair. Aku berlari, hampir memukul wajah X. Tapi, tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan, seorang telah sukses menghantam wajahku. Kakiku dipukul dengan tongkat besi, sehingga aku jatuh tersungkur. Aku mendengar suara Soo Jung histeris meneriakkan namaku berkali-kali, dan menyuruh mereka berhenti menghajarku. Kepalaku mencoba terangkat, namun seseorang menginjak kepalaku, melarangku untuk bangun. Semua badanku mati rasa. Samar kudengar lagi, suara sirine polisi. Aku membuka sedikit mataku yang perih oleh darah yang mengalir dari dahiku. Aku melihat wajahnya, wajah lega Soo Jung. Jadi, mungkinkah polisi-polisi itu yang ditunggu Soo Jung?
      ***

      “Ki Bum?”

      “Ki Bum?”

      “Ah?” aku tersentak, menyadari kebodohan yang telah aku buat. Entah berapa lama aku akan selalu memandangi gadis ini? Kenapa bagiku, ia begitu menarik?

      “Ehm” gumamnya sambil melihat jawaban soal matematikaku “Sekarang coba kerjakan yang ini”

      Soo Jung menunjuk salah satu soal matematika. Kali ini Logaritma.

      “Oppa-Onnie, aku bawakan teh hangat!” sahut Ji Young dengan suara khasnya yang imut. Ia masuk ke ruang tengah, dan meletakkan dua gelas teh hangat di atas meja makan.

      “Gomawo Ji Young” Soo Jung tersenyum, membuat jantungku berdegup lebih kencang.

      Ji Young menatap Soo Jung penuh arti, seakan akan ada sesuatu yang mereka rahasiakan dariku. Namun adikku tak mengatakan apapun, yang terlihat jelas adalah senyuman nya yang mengembang sebelum menghilang dibalik pintu dapur.

      “Ki Bum-ah” aku hampir tak mengenali suaranya yang jernih itu. Pikiranku yang tadinya entah melayang kemana langsung terpusat menatap matanya begitu dalam. Bibirnya tertarik, “Ini,” katanya perlahan dan memperlihatkan sesuatu padaku. Sebuah kertas panjang berwarna putih.

      “Apa ini?” tanyaku sebelum memperhatikan apa yang tertulis di dalam kertas itu.


      QUOTE
      FORMULIR PENDAFTARAN TES BEASISWA SISWA


      Aku menganga tak percaya.
      “Kau harus ikut tes beasiswa” kata Soo Jung begitu cerianya.

      Aku menelan ludah beberapa kali, begitu setelah kuamati lagi,

      QUOTE
      Seoul High School


      Soo Jung sepertinya menyadari, kalimat apa yang ku perhatikan sedari tadi.
      “Dan,” ia menjawab pertanyaan yang sedang aku pikirkan “Kau juga pindah kesekolahku, bagaimana?”

      “A-apa?!”

      “Oppa faighting!” Aku tersentak begitu mendengar suara Ji Young yang berteriak entah dari mana.

      Jadi Ji Young sudah tau? Mereka berdua sudah merencanakannya?

      Aku menghela nafas, kemudian tersenyum kecil.






      "Oppa!"

      "Oppa!"
      Tak ada sahutan. Ki Bum tak menghiraukan panggilan Ji Young dan melewati tubuh adiknya itu tanpa kata-kata. Ji Young menatap heran oppanya yang kini sedang naik tangga kayu dengan cepat.

      "Oppa!" panggil Ji Young lagi dengan serak. Dan yang menjawabnya hanyalah bunyi keras suara pintu kamar dibanting.
      ***



      Hidangan istimewa dan wangi anggur tercium oleh hidung keseluruh ruangan utama. Meja utama, kini terisi oleh lima orang.

      “Aku dan istriku memutuskan pertunangan mereka diadakan di Jepang, dan setelah itu mereka berdua menetap disana”

      Soo Jung menatap Jong Hun yang duduk disampingya. Laki-laki itu sedang menganga tak percaya dengan perkataan ayahnya barusan. Jepang?!
      "Jepang?! Aku tak setuju dengan ini. Mengapa kalian mengambil keputusan tanpa sepengetahuanku?" kata Jong Hun terlihat tidak suka.
      "Kenapa kau harus tau tentang apa yang kami putuskan? Sedangkan kau belum tau juga, apa calon tunanganmu setuju atau tidak?" jawab Ayah Jong Hun begitu lihai.

      Soo Jung menggigit bibirnya ragu ketika Jong Hun tiba-tiba memandangnya gusar. Kerongkongannya terasa panas.
      "Nak Soo Jung, apa kau ingin pergi ke Jepang?" tanya Ibu Jong Hun sangat lembut.

      Soo Jung menoleh ke ayahnya, tatapan tegas ayahnya seakan memberinya jawaban apa yang harus ia jawab.

      "Ku rasa, aku menyukainya" kata Soo Jung sambil tersenyum "Aku setuju"

      Ayah Soo Jung berdeham singkat. Ayah Jong Hun dan Ibunya tersenyum penuh kemenangan. Soo Yeon memandang Soo Jung dan tersenyum kearahnya. Sedangkan Jong Hun hanya bisa menganga. Soo Jung melihat ekspresi Jong Hun dan tersenyum tipis kepadanya.

      "Soo Jung-sshi, apakah sulit untukmu jika mengatakan 'tak menyetujuinya'? Aku tau rahasiamu, dan sekarang kau tetap ber-acting seakan-akan kau baik-baik saja?"








      Soo Jung sedikit mendongak, ia menatap Jong Hun yang sedang berjalan beriringan disampingnya. Mereka berjalan begitu pelan, seakan-akan memikirkan sesuatu.
      "Seharusnya kau tak perlu repot begini" katanya "Aku bisa pulang dengan ayah dan kak Soo Yeon"

      Jong Hun mengambil nafas singkat, udara disekitarnya begitu terasa dingin dari sebelumnya. Ia melepaskan jasnya. "Memangnya salah jika aku mengantar pulang calon tunanganku sendiri?" jawabnya sambil meletakkan jasnya di pundak Soo Jung agar gadis itu tak kedinginan.

      "Gomawo" kata Soo Jung sambil tersenyum kecil. Ia mengedarkan pandangan keseluruh halaman parkir, ternyata hanya diisi oleh sebuah mobil yang terparkir di paling ujung.

      "Jong Hun-sshi" Mulai Soo Jung "Apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?"
      Alis kanan Jong Hun terangkat. "Ehm, boleh saja."
      “Apa" tanya Soo Jung perlahan dan hati-hati "kau sungguh menyukai Ji Won?”
      Jong Hun terdiam, seakan tak ingin menjawab pertanyaan itu.

      “Kau, sepertinya sudah tau banyak” ujarnya tiba-tiba tanpa menatap Soo Jung “Min Ho pasti sudah menceritakan ‘kejahatannya’ kepadamu”
      Soo Jung menghentikan langkahnya, “Kau menyebut sebuah ‘kecelakaan’, menjadi ‘kejahatan’?”
      Jong Hunpun ikut berhenti beberapa langkah didepan Soo Jung dan berbalik menatapnya tak suka.
      “Kau membelanya?”
      Soo Jung mendekat dengan cepat sehingga kini mereka berdua saling berhadapan. “Aku ‘percaya’ padanya” jelas Soo Jung. Ia menatap mata Jong Hun dalam-dalam. “Mungkin belum lama kita bertemu, tapi aku tau, aku telah mengenal dirimu lebih dari dirimu sendiri”
      “Ayo, kuantar kau pulang” kata Jong Hun cepat, bermaksud menyelesaikan pembicaraan ini. Ia memunggungi Soo Jung.
      “Tunggu,” Soo Jung menahan tangan Jong Hun, namun pemuda itu tetap memunggunginya “Kau boleh tertawa dan tersenyum semaumu. Tapi kau tak bisa berbohong padaku. Kau yang ada di hadapanku, adalah Choi Jong Hun yang kesepian. Kau sangat kesepiankan? Kau takut tak ada orang yang akan memperhatikanmu dan mencintaimu seperti Ji Won. Kau mencarinya, tapi tak pernah menemukannya___”
      “Cukup, jangan katakan lagi___”
      “Jong Hun-sshi” Soo Jung memutar tubuh Jong Hun menghadapnya. “Sesungguhnya, banyak orang yang memperhatikanmu. Hanya saja kau tak bisa merasakannya, karena kau tak memperhatikan mereka.”

      Mata Jong Hun terasa berair. Suhu tubuhnya terasa lebih panas. Kenapa perkataan Soo Jung tadi, benar-benar membuat hatinya tak karuan seperti ini? Mungkinkah Soo Jung benar?

      Soo Jung terbelalak, Jong Hun menarik tubuh kecilnya kepelukan pemuda itu. Jong Hun mendekapnya erat. Gadis itu tak memberontak, ia dapat merasakan, nafas Jong Hun tersendat, laki-laki itu terisak, ia menangis dan membutuhkan seseorang yang bisa menopang tangisnya.

      Andaikan aku bisa sekuat dirimu, Soo Jung-sshi






      Tak jauh dari sana seseorang terkejut. Ia menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok. Nafasnya menderu seakan baru saja melihat hantu.
      "Apa yang dilakukan Soo Jung disini?" kata perempuan itu sambil mengintip hati-hati "Dan dia berpelukan dengan Tuan Jong Hun?" Ia mengernyit heran.
      Perempuan itu kemudian mendengus karena tak bisa mencuri dengar pembicaraan Jong Hun dan Soo Jung.







      “Soo Jung-sshi” gumam Jong Hun tanpa merubah posisi disela isakannya.
      “Ne?”
      Tangan Jong Hun bergetar. Jantungnya berdegup sangat kencang. Hawa dingin meresap hingga kerusuknya. Ia melepaskan pelukannya dan menyatukan tatapan mereka berdua. Jong Hun menunduk, mendaratkan kecupannya dibibir Soo Jung dan melumatnya lembut. Kecupan ini berbeda, sangat lembut dan benar-benar tulus dari hati. Bukan kecupan nafsu seperti dulu, tapi rasanya berbeda, ada bumbu kasih sayang disana sehingga lebih terasa manis.




      Perempuan dibalik itu mendelik kaget dan membekap mulutnya sendiri. "Jadi," kata Soh Hyun terbata "Apakah, Tunangan Tu-an Jong Hun itu, So-Soo Jung?"




      Jong Hun melepaskan kecupannya, dilihatnya gadis yang ada dihadapannya kini sedang menatap penuh tanda tanya. Soo Jung menunggu penjelasan Jong Hun, apa maksud dari ciumannya tadi?
      "Jo-Jong Hun-sshi, ap___"
      “engh," potong Jong Hun mengerti apa yang Soo Jung ingin pertanyakan.

      Kerongkongannya terasa kering dan dadanya sesak.

      Katanya hampir seperti bisikan.
      "Bolehkah? Bolehkan jika aku benar-benar mencintaimu?”
      -TBC-

      6 komentar:

      Astagah! huwaa jonghun jdi suka beneran

      lnjut thor!!!! sangat'suka ceritanya... DAEBAK

      tolong dilanjut ne ^^ penasaran banget sama ceritanya, hehe~

      Posting Komentar

      THX 4 COMENT ^^

      Categories

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news