mianhe, posternya utk smentara lum dbikin
ONE
you are my one
AUTHOR:
Shin Min Young
GENRE:
Romance
CAST:
Jung Soo Jung
Choi Min Ho
Park Chun Dong
TITLE:
ONE
you are my one
CHAPTER 1
Langit-langit Seoul mulai menggelap. Matahari mulai menghilang dibalik gedung-gedung tinggi yang menjulang. Bayangan pepohonan dan gedung-gedung nan angkuh itu mulai menghilang perlahan. Lampu-lampu kota mulai tampak menghiasi malam. Bintang-bintang tampak enggan untuk menyaingi gemerlapnya sinar kota. Bulan menyembul dari balik bukit dan meninggi perlahan. Cahayanya redup terkungkup awan kelabu.
Seorang bocah kecil berjalan penuh semangat dengan sebuah bola sepak dalam pelukannya. Umurnya belum genap 13 tahun. Namun tubuhnya cukup tinggi untuk seumurannya. Ia berjalan begitu tergesa tanpa memperdulikan orang-orang dewasa yang memperhatikannya.
Kemudian ia berbelok, menghindar dari keramaian memasuki sebuah gang yang cukup lebar. Samar, terdengar suara merdu entah dari mana sumbernya itu. Alunannya begitu nyaman dan damai. Bocah itupun tersenyum dan mulai berlari ke arah suara itu.
Suara itu makin jelas. Si Bocah kini berhenti di hadapan tembok batu yang menjulang tinggi di atasnya. Sebuah tong sampah telah ia pilih untuk menjadi pijakannya. Ia meraih ujung tembok dan mengangkat sisa tubuhnya untuk naik. Walaupun dengan susah payah, akhirnya ia bisa melihat sesuatu dibalik tembok itu.
Rumah bertingkat yang begitu sederhana dan bercat putih. Namun bukan itu yang menarik perhatian bocah itu. Disana, di sebuah balkon kamar di lantai dua. Seorang gadis jelita dengan rambut panjang hitamnya yang berkibar karena angin malam. Sesuatu mengapit di lehernya, sebuah biola. Dari sanalah asal suara merdu itu. Gadis kecil itu begitu piawai memainkannya.
Ini bukan untuk pertama kali Bocah itu melakukannya. Namun sudah untuk kesekian kalinya disetiap malam dan gadis itu sama sekali tak menyadarinya.
***
Langit sedang tidak bisa diajak untuk berkawan sekarang. Hujan deras tiba-tiba saja mengguyur Seoul. Gadis kecil itu berlarian dispanjang trotoar, dan akhirnya memilih berteduh di depan sebuah toko yang sedang tutup. Bajunya setengah basah. Dia mengusap tangannya menghilangkan rasa dingin yang mulai menjalar.
“Kau tidak apa-apa?”
Gadis itu menoleh. Dilihatnya seorang bocah jangkung menyapanya ramah.
“Gwenchanayo” gumamnya hati-hati, sebab ia merasa tak kenal dengan bocah laki-laki itu.
Bocah laki-laki itu tersenyum simpul, kemudian melepas jaket hitamnya.
“Ini” katanya dan menyerahkan jaket itu pada gadis yang sedang kedinginan tersebut.
“Aniyo, gwenchanayo” tolak gadis itu. Namun si bocah justru meraih tangan si gadis dan meletakkan jaket hitamnya di genggaman gadis itu.
“Ehm” dengan cukup ragu gadis itu berkata “kansahamnida”
“Kau berterimakasih padaku?” tanya bocah itu membuat si gadis kebingungan. Tapi akhirnya gadis itu mengangguk.
“Bisakah,” tanya bocah itu tanpa pikir panjang “Bisakah kau membalas kebaikanku dengan menyebutkan siapa namamu?”
Gadis itu tampak cukup kaget. “Choi Min Ho imnida” ucap bocah laki-laki itu dan mengulurkan tangannya. Si Gadis memandang ragu namun kemudian ia tersenyum manis “Soo Jung, Jung Soo Jung imnida” dan membalas uluran tangan bocah itu.
***
5 tahun kemudian
Pagi yang cerah menyapa. Burung-burung berkicauan di antara pepohonan rindang disekitar. Tempat itu begitu ramai dengan pemuda yang berlalu-lalang untuk berolah raga ataupun lari pagi. Seorang pemuda jangkung terlihat mengistirahatkan tubuhnya dan duduk nyaman di bawah sebuah pohon rindang. Ditatapnya langit yang berwarna biru cerah dan begitu luas. Ia tersenyum sekilas kemudian merogoh sesuatu dari saku celananya. Terlihat sebuah benda kayu berbentuk kotak kecil seukuran kotak korek kayu mini yang tipis. Ditatapnya penuh arti kayu itu. Disana tertera, sebuah ukiran huruf 'MJ'. Sekilas orang-orang akan teringat pada sebuah nama yang begitu tenar, Michael Jackson. Namun siapa dikira, bahwa singkatan dari 'MJ' hanya dia dan seseorang si empunya benda kembar sepertinya, yang tau apa singkatannya.
“Ya Choi Min Ho, Jangan melamun” pemuda itu tersentak kaget ketika ada sesorang memanggil namanya. Dia, seorang pemuda tampan bermata ramah, sedang berdiri sembari membungkukkan badannya untuk melihat wajah temannya itu dengan jelas.
“Ya!” elak Min Ho dan segera memasukkan benda kayu mininya itu kembali kedalam saku celana “Chun Dong, sialan kau membuatku kaget”
Pemuda yang bernama Chun Dong itu tersenyum. Ia kemudian duduk disebelah Min Ho, mencoba ikut merelaxkan tubuhnya yang begitu letih dengan kegiatan lari paginya.
“Apa kau benar-benar menyukai teman 'kanak-kanak' mu itu?” sindir Chundong “Bagaimana kau akan mempunyai pacar kalau melupakannya saja susah bagimu?”
“Hey, kenapa kau tidak urusi saja calon tunanganmu itu” sewot Min Ho.
“Setidaknya aku mempunyai pujaan hati yang jelas, sedangkan kau?” balas Chundong.
Min Ho memandang Chundong antusias “Menurutmu?” katanya seakan menantang “Kita lihat apa kau bisa mengalahkanku sepuluh putaran baru ejeklah aku semaumu” gumamnya dan segera beranjak dari sana.
“Ya! Min Ho!” teriak Chundong dan berlari mengejar kawannya itu tak ingin kalah.
***
Ruangan itu gelap. Dengan tribun penonton dan hanya sebuah lampu sorot yang menyoroti satu titik diatas panggung. Sebuah piano putih mengkilap begitu terkena cahaya lampu sorot. Tak berapa lama kemudian, terlihat sosok seorang perempuan dengan mini dress putihnya naik ke atas stage. Ia membungkuk sekilas kearah audience sebelum akhirnya duduk dihadapan piano putih yang tersedia. Tanpa aba-aba, sebuah melodi mulai mengalun. Denting-demi denting seakan bersahut-sehutan sempurna. Jarinya menari, diatas tuts. Wajahnya berbinar, menampakkan betapa ia bagai seorang dewi yang membuat seluruh audience di sana tercengang. Permainannya cepat namun lembut.
“Oppa kau datang!” Gadis itu berlari tertatih dengan highhils putihnya. Disana ada seorang pemuda yang tengah menunggu gadis itu sedari tadi. Pemuda itu menangkap pinggang gadisnya dan mengangkat tubuh ramping gadisnya ringan ke udara. “Ya! Turunkan aku!” seru gadis itu sembari tertawa. Pemuda itu segera menurunkan tubuh gadisnya lalu memeluknya erat.
“Aku rindu padamu chagiya” gumam pemuda itu tepat di telinga gadisnya.
“Aku juga” balas gadis itu. “Aku juga rindu Chundong oppa”
“Hari ini permainanmu menakjubkan” kata pemuda bernama Chun Dong itu. “Lihat apa yang kubawa untukmu”
Chundong melepaskan pelukannya. Sebuah rangkaian mawar putih berbungkus plastik kini ada digenggamannya. Gadis itu tersenyum.
“Gomawo oppa” katanya dan meraih rangkaian mawar putih itu. Dibacanya lekat-lekat tulisan didalam bungkusannya.
Untuk gadisku,
Untuk penampilannya yang cantik dan anggun hari ini,
Calon tunanganku,
Jung Soo Jung
***
TBC
08.38


Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar
THX 4 COMENT ^^